Tautan-tautan Akses

AS

Sekolah Virtual di AS Dapat Reaksi Negatif


Murid-murid di Sekolah Dasar Pilot Lilla G. Frederick Pilot Middle School di Dorchester, Massachusetts. (Foto: Dok)

Murid-murid di Sekolah Dasar Pilot Lilla G. Frederick Pilot Middle School di Dorchester, Massachusetts. (Foto: Dok)

Meski populer, Sekolah virtual di AS dipertanyakan kualitas dan efektivitasnya karena kinerja murid yang buruk dan tingkat kelulusan yang rendah.

Sekolah negeri virtual, yang mengijinkan pelajar mengambil semua pelajarannya dari Internet, telah menjadi sangat populer di Amerika Serikat, menawarkan apa yang disebut pendukungnya sebagai alternatif yang inovatif dan berbiaya terjangkau dibandingkan kelas konvensional.

Namun sekarang ini reaksi negatif berdatangan dari pejabat publik dan pendidik yang mempertanyakan apakah sekolah dunia maya ini meningkatkan mutu belajar.

Di Maine, New Jersey dan North Carolina, para pejabat setempat menolak mengijinkan pembukaan sekolah virtual baru tahun ini, karena kekhawatiran akan kinerja akademik yang rendah, tingginya tingkat pergantian siswa dan model pendanaan yang kelihatannya mendahulukan keuntungan sektor swasta dibandingkan prestasi murid.

Di Pennsylvania, pejabat audit telah mengeluarkan laporan tajam yang merekomendasikan perombakan formula pendanaan yang menurutnya membayar sekolah virtual paling sedikit US$105 juta per tahun. Di Tennessee, komisioner pendidikan menyebut skor tes di Akademi Virtual Tennessee yang baru dibuka “tidak dapat diterima.”

Sementar itu di Florida, pejabat kantor pendidikan setempat sedang menyelidiki sebuah sekolah virtual setelah ada tuduhan merekrut guru-guru yang tidak memiliki sertifikat. Dalam dua minggu terakhir, dua dewan sekolah lokal di negara bagian ini telah menolak proposal-proposal untuk sekolah virtual.

Beberapa negara bagian, termasuk Michigan, Indiana dan Lousiana, masih bergerak secara agresif untuk merangkul sekolah daring. Namun kemarahan dan skeptisisme di tempat lain begitu tinggi, sebagian datang dari orang-orang yang telah mendukung penuh kompetisi terhadap sistem sekolah negeri.

“Kelihatannya [sekolah virtual] ini lebih menjadi arus utama sekarang dan kita perlu mengamatinya lebih dekat,” ujar Michael Horn, advokat pembelajaran digital dari Innosight Institute, lembaga pemikiran yang fokus pada kebijakan pendidikan. “Saya kira sekolah virtual ini tidak perlu dihentikan, namun kita memerlukan perubahan dalam model akuntabilitasnya, yang akan memperlambat pertumbuhan.”

Gerakan Sekolah ‘Carter’

Kursus-kursus daring pertama muncul di sekolah menengah negeri pada awal 1990an. Mereka dipromosikan sebagai cara bagi siswa di daerah terpencil untuk belajar di kelas-kelas yang lebih maju yang tidak ada di daerah mereka, atau untuk para siswa yang terancam putus sekolah untuk menambah kredit.

Sampai awal 2000an, para pengusaha menawarkan sekolah virtual penuh waktu, yang menurut mereka sangat cocok untuk atlet-atlet yang memiliki jadwal bepergian yang padat, anak-anak dengan kondisi medis yang mengharuskan mereka tinggal di rumah, atau siapa pun yang merasa keriuhan dan kerepotan di sekolah-sekolah di daerah mereka membuat tidak nyaman.

Konsepnya mulai naik daun sekitar lima tahun yang lalu, ketika gerakan sekolah ‘carter’ mendapat perhatian. Sekolah carter adalah sekolah yang dibiayai dana publik namun dikelola oleh swasta, termasuk perusahaan.

Pendaftaran untuk sekolah-sekolah khusus virtual ini, yang kebanyakan dibentuk sebagai carter, melonjak 30 persen setiap tahun pada beberapa tahun terakhir ini. Paling sedikit 250.000 siswa mengambil kelas mereka di dunia maya, termasuk pendidikan olahraga, dan 1,8 juta lagi mengambil satu kelas virtual, menurut Asosiasi Internasional untuk Pembelajaran Daring K-12, yang mewakili industri ini.


Celestial McBride, 14, belajar dari Sekolah Virtual Florida di rumah (AP/John Raoux).

Celestial McBride, 14, belajar dari Sekolah Virtual Florida di rumah (AP/John Raoux).

Sekolah-sekolah ini terutama populer di Colorado, Washington, Ohio dan Arizona, di mana 4 persen dari murid sekolah negeri mengikuti sekolah virtual penuh waktu.
Kelas-kelas di dunia maya ini kadang-kadang menggunakan animasi dan video untuk membuat kelas hidup, namun seringkali hanya memindahkan pelajaran dari buku teks standar ke layar komputer.

Kelas Bahasa Inggris untuk sekolah menengah misalnya meminta para remaja untuk mengklik informasi mengenai penyair Amerika Walt Whitman, mengulas sejarah hidupnya, kemudian membaca empat karyanya. Sambil belajar, mereka diminta menulis beberapa kalimat mengenai gaya puisi penyair tersebut dan memeriksa jawaban mereka dalam petunjuk yang tersedia.

Guru-guru ditugaskan untuk setiap kelas, namun peran mereka beragam, tergantung dari sekolahnya. Beberapa menerangkan kemudian mengadakan diskusi daring dengan murid-murid yang berpartisipasi lewat perangkat lunak interaktif. Yang lainnya sebagian besar menghabiskan waktu dengan menjawab pertanyaan individual lewat surat elektronik.

Entitas publik, seperti distrik sekolah lokal, mengelola beberapa sekolah virtual. Namun banyak diantaranya yang dioperasikan oleh perusahaan swasta, yang menerima dana publik mulai dari $3.000 sampai lebih dari $13.000 untuk setiap murid yang mendaftar, tergantung dari negara bagian dan formula pendanaan lokal.

Pemimpin dalam industri ini adalah K12 Inc., perusahaan perdagangan publik yang mengalami pertumbuhan besar dalam hal pendaftaran murid dan keuntungan finansial. Perusahaan tersebut baru-baru ini melaporkan keuntungan $17,5 juta untuk pendapatan $708 juta untuk tahun fiskal 2012. Jumlah tersebut naik lebih dari 35 persen dari tahun lalu.

Selain itu ada Connections Academy, unit pendidikan dari penerbit buku Pearson PLC.

Ketinggalan atau Mengejar?

Para pendukung menyebut program sekolah virtual sangat melibatkan siswa dan personal, karena murid dapat masuk kapan saja, dari mana saja, dan bekerja sesuai ritme masing-masing.

Namun di banyak negara bagian, sekolah virtual penuh waktu ini memperlihatkan skor tes yang buruk dan tingkat kelulusan yang sangat rendah.

Pengurus sekolah menjelaskan bahwa murid mereka awalnya sudah tertinggal jauh dan perlu waktu untuk mengejar ketertinggalan mereka. Murid-murid yang mengikuti sekolah virtual memang memperlihatkan perbaikan, menurut data dari K12 dan studi terakhir dari Universitas Arkansas.

Namun para peneliti melihat bahwa banyak dari siswa penuh waktu tersebut yang tidak memiliki dasar kuat dalam pelajaran-pelajaran utama.

Hampir semua sekolah virtual di Ohio memiliki peringkat di bawah rata-rata dalam hal perkembangan akademis siswa, menurut laporan awal yang diterbitkan negara bagian itu minggu lalu. Sebuah studi dari Stanford tahun lalu menemukan bahwa siswa sekolah virtual di Pennsylvania “hanya memperlihatkan kemajuan kecil dalam membaca dan matematika” dibandingkan dengan sesama murid di sekolah negeri tradisional. Hasil yang serupa ditemukan di Tennessee.

Beberapa negara bagian telah mendorong pemberlakuan standar minimum dan mekanisme pengawasan kualitas sekolah virtual, apalagi karena dana diambil dari dana publik.

Departemen Pendidikan di New Jersey mengijinkan pembukaan enam sekolah carter baru musim gugur ini, namun memberikan waktu satu tahun lagi untuk semua sekolah virtual untuk menyempurnakan sistem akademik dan logistiknya. Sementara itu, auditor jenderal di Pennsylvania, Jack Wagner, mengadakan dengar pendapat mengenai baik dan buruknya sekolah virtual.

"Saya tidak menutup pintu untuk sekolah semacam ini. Tapi kita harus melakukannya dengan benar,” ujar Wagner. (Reuters/Stephanie Simon)
XS
SM
MD
LG