Tautan-tautan Akses

Sekolah-sekolah Swasta Pakistan Larang Memoar Malala

  • Ayaz Gul

Malala Yousafzai memberikan buku "I Am Malala" pada Ratu Elizabeth dalam sebuah resepsi untuk anak muda, pendidikan dan negara-negara persemakmuran di Istana Buckingham, London (18/10).

Malala Yousafzai memberikan buku "I Am Malala" pada Ratu Elizabeth dalam sebuah resepsi untuk anak muda, pendidikan dan negara-negara persemakmuran di Istana Buckingham, London (18/10).

Ketua Asosiasi Manajemen Sekolah Swasta Pakistan menegaskan bahwa kurang dapat dipahami oleh siapapun bahwa seorang gadis muda seusia Malala dapat menulis tentang isu-isu tertentu dalam buku.

Para pengelola sekolah-sekolah swasta di Pakistan telah melarang buku Malala Yousafzai dari perpustakaan-perpustakaan mereka, karena ada bagian-bagian yang dianggap tidak menghormati Islam, dan penulis remaja Pakistan itu telah bertindak sebagai "alat propaganda Barat" untuk menistakan negara asalnya.

Memoar Yousafzai "I Am Malala" diterbitkan Oktober dan ditulis bersama jurnalis Inggris Christina Lamb.

Buku tersebut masih menjadi salah satu buku terlaris secara global, namun telah dikecam oleh kelompok-kelompok sayap kanan di Pakistan, tempat sekolah-sekolah swasta telah memutuskan tidak mengizinkan para murid membacanya.

Adeeb Javedani adalah presiden Asosiasi Manajemen Sekolah-Sekolah Swasta Pakistan, yang mewakili lebih dari 40.000 lembaga-lembaga elit di seluruh negara tersebut. Ia mengatakan tidak paham bagaimana seorang gadis muda seumur Malala dapat menulis hal-hal seperti bagaimana kelompok Ahmadiyah dianggap sesat di Pakistan, padahal tidak ada gerakan seperti itu.

Javedani yakin Malala sendiri "tidak menulis buku ini dan seseorang yang mewakili Eropa (referensi umum mengenai Barat) telah melakukannya dengan memakai nama Malala."

Ia mengatakan otoritas pendidikan di Pakistan telah menjamin bahwa mereka tidak berencana memasukkan memoar Malala ke dalam buku-buku teks yang diajarkan di sekolah negeri dan swasta.

Di bawah tekanan partai-partai Islam, komunitas minoritas Ahmadiyah dideklarasikan sebagai non-Muslim pada awal 1970an. Malala dalam bukunya telah menyoroti fakta bahwa umat Ahmadiyah mengatakan mereka adalah Muslim, namun undang-undang melarang mereka untuk menyatakan hal itu secara terbuka.

Javedani dan yang lainnya juga mengatakan Malala telah menyebut nama Nabi Muhammad tanpa singkatan SAW atau PUH (Peace be upon him), yang dianggap wajib di negara-negara Islam.

Namun aktivis-aktivis hak asasi manusia, seperti Profesor Pervez Hoodbhoy dari Quaid-e-Azam University yang prestisius di Islamabad, mengatakan bahwa elemen-elemen pro-Taliban dalam masyarakat sengaja mendistorsikan fakta-fakta untuk menghukum Malala karena mendorong haknya untuk pendidikan.

"Ia tidak mengatakan dalam bukunya bahwa Ahmadiyah itu Muslim," ujar Hoodboy. "Ia semata-mata mengatakan ada orang-orang yang mengalami kekerasan, dan itu fakta. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa Ahmadiyah merupakan kelompok minoritas yang paling banyak dianiaya, dan semuanya terjadi di Pakistan saat ini."

Hoodbhoy bersikeras bahwa Malala telah salah dituduh sebagai pembela penulis Ingris Salman Rushdie, yang membuat marah banyak Muslim karena bukunya "Ayat-Ayat Setan."

"Fakta bahwa Salman Rushdie telah dicekal dan dicela di Pakistan adalah indikasi intoleransi ekstrem yang telah menjadi karakter budaya Pakistan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konspirasi yang mengelilingi Malala merupakan indikasi yang memprihatinkan dari fakta bahwa pengaruh Taliban dan orang-orang yang berpikir seperti Taliban telah naik secara signifikan di Pakistan.

"Ada gadis remaja yang seharusnya menjadi pahlawan bagi banyak orang Pakistan, namun hanya didukung sekelompok minoritas," ujar Hoodboy.

"Di lain pihak, ada pembantai massal, pembunuh orang-orang Pakistan seperti Hakimullah Mehsud, yang telah dianggap sebagai martir."

Mehsud adalah pemimpin Taliban Pakistan dan bertanggung jawab atas kematian ribuan warga Pakistan. Minggu lalu serangan pesawat tak berawak Amerika telah menewaskannya. Taliban kemudian menunjuk Mullah Fazlullah, yang menjadi dalang serangan terhadap Malala, sebagai pemimpin baru.
XS
SM
MD
LG