Tautan-tautan Akses

AS

Sekolah di AS Libatkan Siswa dalam Diskusi tentang Masalah Rasial


Kerusuhan di Ferguson, Missouri setelah penembakan seorang pria kulit hitam oleh polisi lokal. (Foto: dok.)

Kerusuhan di Ferguson, Missouri setelah penembakan seorang pria kulit hitam oleh polisi lokal. (Foto: dok.)

Kekerasan dan kerusuhan di seluruh AS terkait kematian beberapa orang selagi di dalam tahanan polisi, serta kematian yang diakibatkan tembakan polisi, lebih dari berita populer bagi para pelajar Sekolah Menengah Ladue di dekat St. Louis, Missouri. Itu merupakan fokus perhatian sebuah kelas, yang para pelajarnya terlibat dalam diskusi terbuka mengenai kebrutalan polisi dan ketegangan rasial.

Di sebuah kelas di Sekolah Menengah Ladue di pinggiran St. Louis, Vincent Flewellen mengajarkan pelajaran yang lebih penting daripada matematika dan tata Bahasa.

Flewellen mengatakan, "Ini adalah pelajaran mengenai hidup, dari sudut pandang para pelajar."

“Dengan kejadian di Ferguson dan kejadian yang menimpa Mike Brown, di dekat kita, mereka adalah tetangga kita, tidak mungkin saya mengajar seperti biasa dan tidak menyinggungnya. Kita perlu berdiskusi,” tambahnya.

Flewellen mengatakan mata pelajaran multikultural yang diajarkannya tidak lagi hanya mencakup topik-topik seperti pangan asing dan imigrasi. Kepala berita terbaru dan hangat memicu kurikulum dan perbincangan dengan para pelajar.

Flewellen meyakini ruang kelasnya dalam banyak cara merupakan satu-satunya tempat dimana para pelajar dari berbagai ras dan latar belakang ini bisa menyatakaan perasaan mereka dengan terbuka, dan mempertanyakan hal-hal yang terjadi di seluruh dunia.

“Anak-anak punya pertanyaan. Mereka bertanya kepada kami untuk membentuk pemahaman mereka mengenai dunia yang mereka tinggali. Saya bisa melakukannya tanpa memasukkan pendapat pribadi, namun membantu memfasilitasi diskusi,” ujarnya.

Itu adalah diskusi yang sering dihindari banyak orang karena isu yang sensitif, kata profesor Universitas St. Louis Missouri Brian Hutchison.

Hutchison mengatakan, “Selama beberapa generasi itu menjadi subyek tabu. Banyak yang merasa tidak punya kemampuan sebagai individu untuk membicarakannya dengan cara yang tidak membahayakan, yang konstruktif, atau tidak merasa terancam.”

Flewellen mengatakan kelas yang diajarnya sekarang ini bukan elektif. Dia mengatakan meskipun sebagian orangtua telah menyuarakan keprihatinan mengenai ajarannya dan caranya menggambarkan sebagian insiden polisi baru-baru ini, kelasnya kian populer di kalangan pelajar.

Flewellen berharap kelas semacam ini muncul di lebih banyak sekolah di seluruh negara itu, dengan harapan untuk mengurangi pergolakan dan kerusuhan, dan mendorong pengertian yang lebih baik antara polisi dengan masyarakat yang mereka layani dan lindungi.

XS
SM
MD
LG