Tautan-tautan Akses

Sekjen PBB Prihatin akan Kekerasan di Burundi


Presiden Burundi Pierre Nkurunziza saat pengambilan sumpah sebagai presiden Burundi untuk masa jabatan ketiga di Bujumbura, Burundi (Foto: dok).

Presiden Burundi Pierre Nkurunziza saat pengambilan sumpah sebagai presiden Burundi untuk masa jabatan ketiga di Bujumbura, Burundi (Foto: dok).

Korban terakhir adalah putra aktivis HAM Pierre Claver Mbonimpa, yang dibunuh beberapa jam setelah ditangkap di ibukota, Bujumbura. Ia orang kedua dalam keluarga Mbonimpa yang dibunuh dalam beberapa pekan terakhir.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan ia prihatin akan peningkatan kekerasan di Burundi dan mengutuk pembunuhan putra aktivis HAM terkemuka hari Jumat (6/11). Dalam pernyataan hari Jumat, Ban mengatakan "dalam beberapa pekan ini ditemukannya mayat korban sipil, banyak yang tampaknya dibunuh, sudah menjadi biasa di beberapa kawasan perumahan di Bujumbura."

Korban terakhir adalah putra aktivis HAM Pierre Claver Mbonimpa, yang dibunuh beberapa jam setelah ditangkap di ibukota, Bujumbura. Ia orang kedua dalam keluarga Mbonimpa yang dibunuh dalam beberapa pekan terakhir.

Ban juga mengutuk "pernyataan terbuka yang tampaknya untuk memicu kekerasan atau kebencian terhadap kelompok berbeda dalam masyarakat Burundi. Retorika panas, tercela dan berbahaya, dan hanya akan memperburuk situasi."

Secara terpisah, jaksa Pengadilan Pidana Internasional, Fatou Bensouda, mengatakan "siapa saja di Burundi yang menghasut atau terlibat tindak kekerasan massa termasuk menyuruh, meminta, membujuk atau memberi kontribusi dengan cara lain bagi tindak kejahatan yang tercakup dalam yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional, bisa dituntut oleh mahkamah ini."

Burundi didera gelombang pembunuhan setelah terpilihnya kembali Presiden Pierre Nkurunziza untuk masa jabatan ketiga yang kontroversial.

Komunitas internasional semakin prihatin atas ultimatum Presiden Nkurunziza yang dikeluarkan hari Senin agar rakyat Burundi dalam lima hari menyerahkan senjata apa saja yang mereka miliki atau menghadapi risiko menjadi "musuh bangsa." Ratusan orang Burundi dalam beberapa hari ini bisa terlihat meninggalkan ibukota, dengan alasan takut akan apa yang terjadi setelah batas waktu itu hari Sabtu.

Duta Besar Amerika untuk PBB Samantha Power hari Kamis menyatakan sangat prihatin atas ultimatum senjata itu. Ini, menurutnya, bisa "memicu kekerasan yang luas" di Burundi, yang timbul dari perang saudara 10 tahun lalu.

Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan khusus hari Senin, membahas kekerasan yang meningkat dan pidato-pidato yang memancing kemarahan. [ka]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG