Tautan-tautan Akses

Sekjen PBB Desak Rusia, Ukraina Tuntaskan Krisis

  • Lisa Schlein

Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon memberi konferensi pers pada Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, Senin (3/3).

Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon memberi konferensi pers pada Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, Senin (3/3).

Ban Ki-moon menyampaikan di sela-sela Sidang HAM, bahwak penguasa Rusia dan Ukraina harus meredakan ketegangan dan mencari penyelesaian krisis di Ukraina.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengkhawatirkan situasi di Ukraina yang bisa menjadi tak terkendali. Ia mengatakan kepada para wartawan di Jenewa bahwa ia berusaha mencari penyelesaian damai atas krisis itu.

Ban mengatakan, ia telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, mendesak agar Rusia menyelesaikan krisis lewat pembicaraan yang membangun dan langsung dengan penguasa di Ukraina.

Sekjen PBB mengatakan ia menekankan pentingnya kerjasama untuk mengusahakan pemecahan terhadap situasi yang menegangkan itu. Ia mengatakan kerjasama itu penting guna menjamin penghormatan dan pelestarian kemerdekaan, persatuan, kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.

“Sekarang ini sangat penting untuk memulihkan ketenangan, meredakan ketegangan melalui dialog. Saya akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov di Jenewa hari ini," ujarnya.

Sekjen Ban mengatakan, utusan khususnya, Wakil Sekjen Jan Eliasson, berada di Kyiv sekarang guna menyampaikan pesan yang sama kepada penguasa di Ukraina.

Meskipun bermaksud baik, Sekjen PBB mungkin tidak akan mendapat tanggapan seperti yang ia harapkan dalam pertemuannya dengan Menlu Rusia. Dalam pidatonya di depan Dewan HAM PBB Senin pagi, Sergei Lavrov, membela campur tangan militer negaranya di Semenjung Krimea di Ukraina dengan berapi-api.

“Dalam kondisi seperti itu, penguasa yang sah di Krimea elah meminta Presiden Rusia untuk menyediakan bantuan guna memulihkan perdamaian di republik otonomi itu," ujar Lavrov. "Himbauan itu konsisten dengan hukum Rusia dan telah dikirim ke Dewan Federasi, serta Presiden Rusia menghimbau kepada Dewan Federasi untuk menggunakan angkatan bersenjatanya di Ukraina, sampai normalisasi situasi sosial dan politik di negara itu berhasil dilaksanakan.”.

Parlemen Rusia mengesahkan penggunaan pasukan di Krimea hari Sabtu. Hal ini terjadi menyusul pemecatan presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, sekutu Rusia, bulan lalu. Jumlah personil militer Ukraina di Krimea lebih sedikit akibat pengerahan pasukan Rusia dan selisihnya mencapai ribuan.

Perdana Menteri Ukraina mengatakan setiap usaha Rusia untuk merebut Krimea akan gagal. Tetapi, ia mengakui saat ini tidak ada opsi militer yang sedang dipertimbangkan. Sebaliknya, ia menyerukan pemberlakuan sanksi internasional dan politik guna menekan Rusia agar meninggalkan Ukraina.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG