Tautan-tautan Akses

Sejumlah Jemaat Rayakan Paskah dalam Keprihatinan


Dalam foto tertanggal 25/12/2012 ini, jemaat GKI Yasmin (Bogor) and HKBP Filadelphia (Bekasi) mengadakan ibadah Natal mereka di depan Istana Presiden Jakarta, karena dilarang beribadah di gereja mereka.

Dalam foto tertanggal 25/12/2012 ini, jemaat GKI Yasmin (Bogor) and HKBP Filadelphia (Bekasi) mengadakan ibadah Natal mereka di depan Istana Presiden Jakarta, karena dilarang beribadah di gereja mereka.

Suasana perayaan Paskah 2013 diliputi keprihatinan dari jemaat Gereja HKBP Setu Bekasi dan GKI Yasmin Bogor.

Perayaan Paskah di beberapa tempat dihantui oleh ancaman larangan beribadah oleh pihak tertentu. Sekitar 400 jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Desa Taman Sari Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi Jawa Barat, melakukan kebaktian Jumat Agung di lapangan terbuka, persis di depan bangunan gereja mereka, yang dirobohkan secara paksa oleh pemerintah daerah setempat beberapa waktu lalu. Pendeta Torang Parulian Simanjuntak kepada VOA mengaku sangat menyesali adanya pembiaran dari pemerintah atas kekerasan yang terus berlangsung.

”Pada Jumat Agung, kita beribadah di luar gereja di depan puing-puing pembongkaran gereja kita. Nah..inilah yang kita sesalkan dari negara kita. Jadi, ada pembiaran dari pemerintah untuk mereka melakukan aksi merajalela. Padahal sebenarnya pada prinsipnya kita adalah setara di hadapan Pancasila, dihadapan hukum, dan peraturan yang berlaku. Sebenarnya saya sangat meminta kepada pemerintah agar bisa melindungi semua warganya, tidak hanya pada satu golongan atau dua golongan,” kata Pendeta Torang.

Sebelumnya, Gereja HKBP di Desa Taman Sari Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi Jawa Barat dirobohkan oleh Pemerintah kabupaten Bekasi dengan alasan gereja itu dibangun tahun 1999 tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Namun, Pendeta Torang memastikan, ia telah mengajukan persyaratan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah rumah ibadah termasuk pengumpulan tanda tangan dari warga pada tahun 2011 berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan No. 9 Tahun 2006.

Sementara itu, perayaan Paskah dalam suasana keprihatinan juga dirasakan oleh puluhan jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin Bogor Jawa Barat. Mereka melakukan ibadah Jum’at Agung di salah satu rumah jemaat tidak jauh dari lokasi bangunan GKI Taman Yasmin yang disegel Pemerintah Kota Bogor. Jemaat GKI Yasmin, Jayadi Damanik kepada VOA mengatakan kekerasan yang berlangsung terhadap kebebasan beribadah, sudah masuk dalam kategori kejahatan kemanusiaan.

“Menjelang Paskah ini begitu banyak ketidak adilan, diskriminasi dan intoleransi yang dihadapi khususnya umat Kristen di Indonesia. Hal ini terjadi bukanlah sesuatu yang alamiah, tetapi ini bagian dari kejahatan negara terhadap warganegaranya. Kejahatan ini sudah dalam batas yang krusial dan masuk dalam kejahatan kemanusiaan. Harapan saya, penguasa Indonesia tidak hanya menonton gejala ini sebagai sesuatu yang massif tapi melakukan tindakan nyata,” kata Damanik.

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Antonius Benny Susetyo Pr atau akrab disapa Romo Benny kepada VOA memastikan, 2013 adalah tahun kelam buat kebebasan beribadah dimana negara tunduk pada pelaku kekerasan.

“Kita merasakan bahwa tahun ini adalah tahun yang kelam, karena kekerasan terhadap kebebasan beribadah dari hari ke hari ada proses pembiaran dan negara tunduk pada pelaku kekerasan. Pemerintah juga tidak serius dalam menyelesaiakan ini. Ketika negara tunduk seolah-olah mayoritas itu menentukan segalanya. Jika terus dibiarkan, kondisi ini sangat berbahaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seharuanya negara tidak tunduk pada kelompok kecil yang mengatasnamakan mayoritas. Kelompok kecil ini selalu menggunakan simbol agama. Padahal itu adalah penghinaan terhadap agama itu. dan yang berhak menyegel itu hanyalah proses pengadilan,” papar Romo Benny.

Terkait perayaan Paskah 2013, Romo Benny berharap umat Kristiani di Indonesia dapat melihat prosesi misa Kamis Putih (28/3) yang dilakukan Paus Fransiskus I yang merayakan Perjamuan Terakhir Kristus di penjara Casal del Marmo di Roma barat laut. Apa yang dilakukan Paus menurut Romo Benny adalah teguran buat dunia bahwa kekerasan yang terjadi muncul dari persoalan ketidakadilan.

“ Gereja diminta oleh Paus Fransiskus agar berpihak pada mereka yang miskin dan memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Maka Bapak Suci merayakan paskah Perjamuan Terakhir di penjara, dengan membasuh dan mencium kaki para narapidana sebagai tanda bahwa mereka bukan orang yang terkutuk, mereka melakukan kekerasan karena struktur sosial yang tidak adil. Maka dengan cara itu, Bapak Suci ingin menegur dunia, bahwa dunia ini ada persoalan ketidakadilan yang menjadi penyebab persoalan kekerasan. Maka memutus kekerasan harus dimulai dari keadilan, itulah Paskah,” kata Romo Benny.

Inti Paskah tambah rRomo Benny, adalah mengembalikan budaya kehidupan. Menurutnya, ketika kekerasan dilegalkan atas nama apapun, ketika negara tunduk pada pelaku kekerasan dan ketika orang-orang diam tak mampu melawan kekerasan karena tidak punya lagi kekuatan, maka keadilan dan kebenaran pada saatnya nanti akan menang.

Pada Kamis (28/3), umat Kristiani memulai rangkaian perayaan Paskah dengan misa atau kebaktian Kamis Putih untuk mengenang perjamuan terakhir Yesus Kristus bersama para muridnya.Lalu pada Jumat (29/3), perayaan dilanjutkan dengan memperingati wafatnya Isa Al Masih, dikenal sebagai Jumat Agung.Dilanjutkan pada Sabtu (30/3), umat Kristiani menyambut malam Paskah yang dilanjutkan dengan merayakan kebangkitan Yesus Kristus pada Minggu (31/3/2013).

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG