Tautan-tautan Akses

Sedikitnya 15 Tewas Diduga Dipenggal Taliban di Afghanistan

  • Ayaz Gul

Tentara Afghanistan berjalan di tengah puing-puing setelah terjadi serangan bom bunuh diri Taliban di Ghazni, Afghanistan (4/9/2014).

Tentara Afghanistan berjalan di tengah puing-puing setelah terjadi serangan bom bunuh diri Taliban di Ghazni, Afghanistan (4/9/2014).

Pemerintah Afghanistan mengatakan pertempuran berkecamuk di provinsi sebelah baratdaya negara itu di mana Taliban menguasai beberapa desa dan menewaskan belasan orang, termasuk 15 orang dengan kepala terpenggal.

Pejabat-pejabat keamanan Afghanistan mengatakan pertempuran pecah di provinsi Ghazni lima hari lalu ketika ratusan pejuang Taliban menyerbu distrik Ajristan yang strategis.

Pemerintah mengatakan pemberontak itu mencakup laki-laki bertopeng yang membawa bendera hitam dan menyebut diri mereka pejuang Negara Islam.

Bentrokan itu berlanjut hari Jumat dan wakil gubernur provinsi Ahmadullah Ahmadi mengatakan, korban termasuk 15 orang yang diduga dipenggal Taliban.

Setelah menguasai desa-desa itu, ia mengatakan kepada VOA, gerilyawan Taliban membakar sebanyak 80 rumah, membunuh ternak dan merusak panen tanaman gandum.

Wakil Gubernur itu menambahkan gerilyawan di provinsi-provinsi terdekat juga bergabung dengan Taliban, dan bahwa pasukan keamanan Afghanistan melancarkan pertarungan sengit guna mempertahankan markas distrik tersebut.

Ahmadi mengatakan, tentara dan polisi kehabisan amunisi dan jika tidak ada bantuan udara segera dari pemerintah pusat, maka seluruh distrik itu akan jatuh ke Taliban.

Pemerintah provinsi itu dilaporkan kehilangan kontak dengan pasukannya di Ajristan. Jalan raya utama yang menghubungkan Kabul dengan Afghanistan selatan melewati provinsi Ghazni.

Namun, menurut jurubicara regional tentara Afghanistan hari Jumat, bala bantuan telah dikirim ke distrik itu hari sebelumnya.

Gerilyawan juga dilaporkan membuat kemajuan baru di provinsi Helmand selatan, di mana mereka sudah berbulan-bulan mengepung distrik Sangin dan dikatakan menguasai desa-desa di sekitarnya.

Intensitas pertempuran itu menggarisbawahi tantangan sulit yang dihadapi Presiden baru Afghanistan Ashraf Ghani dan pasukan keamanan nasional dalam menghadapi pemberontakan Taliban setelah sebagian besar pasukan koalisi pimpinan Amerika keluar dari negara itu akhir tahun ini.

Kritikus mengatakan, kurangnya cakupan udara Amerika telah mendorong pemberontak menyerang pos-pos militer Afghanistan, terutama di daerah-daerah di mana Taliban selama ini menikmati dukungan dan diketahui menanam opium. Bentrokan sengit antara pasukan keamanan dan gerilyawan juga terjadi baru-baru ini di Provinsi Kunduz, Afghanistan utara.

Sementara itu, komisi pemilu hari Jumat secara resmi memberi sertifikat kemenangan kepada presiden baru atas Pemilu putaran kedua yang disengketakan Juni lalu. Dokumen itu menyebutkan Ghani mendapat sekitar 55 persen dari 7,1 juta suara yang dinyatakan sah oleh tim pemeriksa yang dipimpin PBB.

Berbicara kepada wartawan setelah upacara itu, presiden terpilih kembali berjanji akan membentuk pemerintah persatuan nasional yang kuat bersama Abdullah guna mengatasi tantangan yang dihadapi Afghanistan secara efektif.

XS
SM
MD
LG