Tautan-tautan Akses

17 Tewas di Suriah, Annan Bertemu Clinton


Menlu AS Hillary Clinton dan utusan internasional untuk Suriah Kofi Annan membuat pernyataan bersama di kantor Departemen Luar Negri AS, Washington DC (8/6).

Menlu AS Hillary Clinton dan utusan internasional untuk Suriah Kofi Annan membuat pernyataan bersama di kantor Departemen Luar Negri AS, Washington DC (8/6).

Utusan internasional Kofi Annan menyerukan tekanan lebih besar terhadap Damaskus ketika bertemu Menlu AS Hillary Clinton di Washington, Jumat (8/6).

Aktivis Suriah menyatakan kekerasan di seantero negara itu menewaskan 17 orang hari Jumat sementara utusan internasional Kofi Annan menyerukan tekanan lebih besar terhadap pemerintah Suriah ketika bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton di Washington.

Berbicara singkat di samping Clinton, Annan mengatakan mereka akan membahas cara memajukan rencana perdamaiannya yang macet. Gencatan senjata yang diperantarai Annan gagal menghentikan serangan-serangan pemerintah Suriah dan bentrokan dengan pemberontak oposisi yang menewaskan ratusan orang.

Clinton mengatakan mereka berdua akan berupaya mencari cara memancing respons lebih besar dari pemerintah Suriah terhadap usul Annan. Pembicaraan itu berlangsung sementara Ketua Syrian Observatory of Human Rights Rami Abdelrahman di Inggris kepada VOA hari Jumat mengatakan, ledakan di depan pos polisi di kota Idlib, Suriah barat laut, menewaskan dua petugas keamanan dan tiga warga sipil. Ledakan lain yang mengguncang pinggiran kota Damaskus menewaskan dua petugas lain.

Menurut Observatory, demonstran berunjukrasa setelah sholat Jumat di seantero Suriah, termasuk di Aleppo, Damaskus dan Dara'a. Dua warga sipil tewas di kota di bagian selatan itu, termasuk satu orang tewas oleh penembak jitu. Tentara menggempur kota Homs sementara pertempuran hebat menewaskan dua orang di Latakia. Kelompok aktivis itu juga melaporkan kematian di Deir Ezzor.

Di Jenewa, hari Jumat, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyatakan situasi kemanusiaan di Suriah sangat tegang. Jurubicara ICRC mengatakan kepada wartawan, rakyat Suriah merasa semakin sulit memperoleh makanan dan obat. Pernyataan itu muncul sewaktu PBB menyatakan pemantaunya tiba di lokasi pembantaian massal baru-baru ini di provinsi Hama, Suriah Tengah.

Aktivis mengatakan setidaknya 78 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas pekan ini di desa Mazraat al-Qubeir. Pemantau PBB berupaya memasuki lokasi itu sejak Kamis, tetapi PBB menyatakan kawanan bersenjata menembaki pemantau yang tidak bersenjata dan menghalangi mereka melakukan penyelidikan.
XS
SM
MD
LG