Tautan-tautan Akses

220 Wartawan Lebih Masih Dipenjara atas Alasan Politik

  • Deborah Block

Ilham Tohti, seorang wartawan China dari etnis Uighur dipenjarakan karena liputan beritanya soal muslim Uighur di provinsi Xinjiang, China (foto: dok).

Ilham Tohti, seorang wartawan China dari etnis Uighur dipenjarakan karena liputan beritanya soal muslim Uighur di provinsi Xinjiang, China (foto: dok).

Lebih dari 220 wartawan di seluruh dunia dipenjara karena meliput berita dan melaporkan informasi yang tidak disukai pemerintah negara di mana mereka tinggal.

Lebih dari 220 wartawan di seluruh dunia dipenjara karena meliput berita dan melaporkan informasi yang tidak disukai pemerintah negara yang bersangkutan, seperti laporan tentang korupsi pejabat, pergolakan politik dan demonstrasi-demonstrasi pro-demokrasi. Mulai tanggal 3 Mei lalu – bertepatan dengan Hari Kebebasan Pers Sedunia – dijual gelang khusus untuk menarik perhatian pada nasib wartawan yang dipenjara ini dan membantu membebaskan mereka.

Program yang disebut sebagai “Press Uncuffed” ini disponsori oleh Komite Perlindungan Wartawan, tetapi gagasan itu sebenarnya dimulai oleh beberapa mahasiswa jurnalistik Universitas Maryland.

Gelang plastik bening ini bertuliskan nama-nama sembilan wartawan yang dipenjara untuk mengingatkan pentingnya transparansi informasi. Kesembilan wartawan itu adalah Ilham Tohti – warga minoritas Uighur yang juga ekonom dan penulis di Tiongkok, Bheki Makhubu – editor majalah di Swaziland dan Mahmoud Abou Zeid – fotografer di Mesir.

Wartawan-wartawan lain adalah Khadija Ismayilova yang dipenjara di Azerbaijan, Jason Rezaian yang dipenjara di Iran, Yusuf Ruzimuradov yang dipenjara di Uzbekistan, Reeyot Alemu yang dipenjara di Ethiopia, Ta Phong Tan yang dipenjara di Vietnam dan Ammar Adbulrasool yang dipenjara di Bahrain.

Dana Priest, wartawan suratkabar Washington Post yang pernah menerima penghargaan jurnalistik dan kini mengajar di Universitas Maryland mengatakan beberapa mahasiswanya menggagas proyek “Press Uncuffed” ini.

“Kami memutuskan bahwa kami perlu menampilkan nama setiap wartawan dan negara asal mereka. Ini akan mengingatkan kita akan orang tersebut, darimana mereka berasal dan di mana mereka kini dipenjara”.

Wartawan-wartawan yang dipenjara di seluruh dunia dianiaya, disiksa dan bahkan diasingkan dari negara mereka – ujar direktur kampanye Komisi Perlindungan Wartawan Lejla Sarcevic. Ia mengatakan, “Saya benar-benar ingin orang membahas dan meningkatkan kesadaran akan nasib wartawan-wartawan ini”.

Gelang itu bisa dibeli online dengan harga 10 dolar per gelang. Uang yang terkumpul akan dimasukan dalam sebuah akun dana bantuan darurat untuk membantu wartawan dalam situasi sulit. Direktur Advokasi Komisi Perlindungan Wartawan Courtney Radsch mengatakan sebagian besar orang yang namanya tertulis di gelang itu dipenjara karena tuduhan-tuduhan pemerintah atau sebagai pembalasan.

“Wartawan-wartawan ini terutama dipenjara karena mereka kritis, menyoroti pelanggaran yang dilakukan penguasa, atau hanya karena melaporkan hal-hal yang terjadi di negara mereka,” kata Courtney.

Dana Priest mengatakan ini mencakup tulisan di internet, di mana pemerintah semakin mencermati artikel-artikel dan informasi lain.

“Kemudian mereka akan menggunakan informasi itu terhadap wartawan-wartawan media sosial, blogger dan “citizen-journalist”, untuk menghentikan, memenjarakan, mengasingkan atau mengancam mereka. Ini terjadi di negara-negara seperti Ethiopia, Vietnam, Amerika Tengah dan China,” papar Dana.

Selama sepuluh tahun terakhir jumlah wartawan yang dipenjara semakin meningkat, khususnya dalam tiga tahun terakhir ini – ujar Dana. Tiongkok adalah negara yang paling banyak memenjarakan wartawan, disusul Iran.

“Tidak saja dipenjara, di negara-negara itu lebih banyak wartawan yang dibunuh,” tambahnya.

Dana berharap kampanye “Press Uncuffed” ini akan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk membebaskan wartawan-wartawan yang dipenjara.

XS
SM
MD
LG