Tautan-tautan Akses

Indonesia Tuan Rumah Forum Bisnis ASEAN-Amerika Latin

  • Alina Mahamel

Presiden SBY memukul gong saat membuka Forum Bisnis ASEAN-Amerika Latin di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (9/7/2012) pagi.

Presiden SBY memukul gong saat membuka Forum Bisnis ASEAN-Amerika Latin di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (9/7/2012) pagi.

Indonesia menjadi tuan rumah Forum Bisnis ASEAN-Amerika Latin, yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hotel Shangri-La, Jakarta hari Senin (9/7) pagi.

Kawasan ASEAN dan Amerika Latin merupakan kawasan dinamis yang memiliki daya tahan yang cukup baik dalam menghadapi krisis ekonomi global. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif saat ini. Untuk itu dibutuhkan konektivitas untuk menjembatani investasi dan perdagangan di kedua kawasan.

Secara khusus Indonesia yang mewakili 40 persen ekonomi negara-negara di ASEAN dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan kerjasama lebih luas di bidang energi, perbankan, agribisnis dan ekonomi ramah lingkungan.

Presiden SBY mengatakan, "Negara-negara ASEAN, Amerika Latin, dan Kepulauan Karibea perlu mengembangkan jaringan untuk menjembatani jarak yang jauh."

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini dalam sambutannya saat membuka Forum Bisnis ASEAN-Amerika Latin di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (9/7/2012) pagi. Dalam menjalin kemitraan kedua kawasan, menurut Presiden Yudhoyono perlu dikembangkan konektivitas untuk menjembatani jarak.

Menurut Presiden, ASEAN dan Amerika Latin dapat menggunakan kerangka kerja sama yang ada. Sejauh ini kawasan Asia Timur dan Amerika Latin telah terkoneksi melalui forum Asia Timur-Amerika Latin, sementara negara ASEAN telah terkoneksi dengan negara-negara Amerika Selatan.

Presiden SBY menambahkan, “Negara-negara di kawasan ASEAN telah merumuskan dan menerapkan strategi ekonomi yang bertujuan untuk mempertahankan pertumbuhan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015. Pada tahun itu ASEAN berharap menjadi pasar tunggal, di mana akan ada aliran bebas barang, jasa, dan modal."

Secara khusus mengenai Indonesia sendiri, SBY yakin pada prospek ekonomi ke depan. Ekonomi Indonesia, yang mewakili 40 persen ekonomi ASEAN, diproyeksikan tumbuh menjadi 6,5 persen pada tahun 2012.

"Ini adalah proyeksi yang realistis mengingat pada puncak krisis keuangan global pada tahun 2008, Indonesia berhasil mencapai pertumbuhan lebih dari 4,5 persen. Sejak itu, tingkat pertumbuhan Indonesia telah meningkat, sementara rasio utang terhadap PDB telah menyusut secara dramatis, dari 77 persen pada tahun 2001 menjadi 24 persen pada tahun 2012," ujar Presiden SBY.

Saat ini nilai perdagangan ASEAN dan Amerika Latin baru mencapai 2.5 Triliun dollar AS, transaksi ini hanya mencapai sekitar 2.3 persen dari total potensi yang ada. Kurang adanya komunikasi dan interaksi serta kecenderungan untuk bermitra hanya dengan pasar yang sudah ada, menjadi kendala yang dihadapi sejauh ini, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mengatakan.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, “Kalau kalau kita berdagang dengan kawan-kawan di Asia Pasifik atau ASEAN, India, Pakistan, Eropa dan AS, selama ini kita sudah untung berapa persen. Kita jadi agak malas untuk melakukan perdagangan dengan kawan-kawan di Amerika Latin, karena kita belum tahu bagaimana mengukur resiko dan reward-nya, karena kita gak pernah kesana. Ini oke-oke saja kalau tidak ada external shocks. Tapi akhir-akhir ini sudah beberapa kali terjadi external shocks dengan perekonomian di Eropa Barat dan Amerika Serikat, sehingga itu mengganggu dan mendistorsi hubungan kerjasama ekonomi kita.”

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Sofjan Wanandi mengungkapkan hal yang sangat mungkin muncul dari kemitraan di antara kedua kawasan ini adalah hambatan psikologis.

“Hambatan yang paling besar adalah hambatan psikologis karena kita gak kenal mereka. Makanya saya usulkan dua atau tiga produk utama mereka dikasih prioritas. Dari situ kita cari jalan bagaimana kita bekerjasamanya apakah dalam trade maupun investasinya secara bertahap,” demikian menurut Sofjan Wanandi.
XS
SM
MD
LG