Tautan-tautan Akses

Sauna dan Terapi Seni: Rehabilitasi bagi Terpidana Militan Saudi

  • Associated Press

Pada foto tertanggal 26 April 2015 ini, ahli terapi seni Awad al-Yami melihat karya seni yang dilukis oleh para militan di pusat rehabilitas Mohammed bin Nayef, di Riyadh, Arab Saudi.

Pada foto tertanggal 26 April 2015 ini, ahli terapi seni Awad al-Yami melihat karya seni yang dilukis oleh para militan di pusat rehabilitas Mohammed bin Nayef, di Riyadh, Arab Saudi.

Badr al-Enezi sudah bertahun-tahun bertekad menjadi seorang tentara militan. Setelah menjalin kontak dengan sejumlah mantan tahanan di Guantanamo Bay, ia mulai berencana mengangkat senjata.

Namun rencananya gagal, setelah ditangkap aparat Saudi dan menghabiskan enam bulan di penjara. Namun pengalamannya enam bulan sesudah itu sangat berbeda dengan kehidupan di penjara. Ia mengikuti terapi seni, bermain sepakbola dan dapat menikmati berbagai fasilitas seperti kolam renang standar Olimpiade dan sauna. Semua ini tersedia di pusat rehabilitasi bagi terpidana militan.

Hidangan ala restoran disediakan bagi para napi di kompleks yang dihiasi pohon palem di pinggiran kota ibukota Saudi, Riyadh, dan ada staf yang mencuci baju kotor mereka. Ia diperlakukan sebagai seorang anggota keluarga, katanya.

Badr al-Enezi berdiri di halaman pusat rehabilitasi Mohammed bin Nayef Center di Riyadh, Arab Saudi.

Badr al-Enezi berdiri di halaman pusat rehabilitasi Mohammed bin Nayef Center di Riyadh, Arab Saudi.

Tak kalah pentingnya, ia ditantang untuk berpikir secara berbeda tentang Islam.

Sekarang, setelah dengan sukses menyelesaikan program de-radikalisasinya dan menanggalkan segala niatan untuk berjuang di luar negeri, ia bekerja sebagai mentor bagi para napi baru di pusat rehabilitasi yang diusung Putra Mahkota Mohammed bin Nayef, yang juga menjabat Menteri Dalam Negeri Arab Saudi.

"Apa rahasianya? Bahwa ide-ide yang kita bawa tidak dapat dihapus dengan senjata saja. Dibutuhkan juga penyembuhan secara ideologis," ujar Al-Enezi, 30 tahun, mengenai fasilitas ini, yang dalam banyak hal mencerminkan strategi kontra terorisme Arab Saudi.

Dengan berbagai ancaman di dalam negeri dari kelompok Negara Islam yang telah menewaskan 40 warga sipil dan personil keamanan Saudi sejak November, negara kerajaan ini menggiatkan program inovatifnya ini, yang merehabilitasi para militan melalui indoktrinasi selama berbulan-bulan oleh para ulama Islam moderat, sosiologis dan psikologis.

Upaya Saudi melawan ideologi ekstrem ini semakin rumit dengan tegangnya hubungan negara mayoritas Sunni dengan Iran, yang mayoritas Syiah. Retorika dari ulama garis keras Saudi memicu serangan-serangan terhadap warga minoritas Syiah di Saudi, yang dipandang oleh ekstremis Sunni seperti ISIS sebagai kaum yang murtad.

Di Saudi, para pejabat dan komentator mengecam Iran sebagai kekuatan yang ingin mendominasi wilayah ini, tapi para ulama konservatif bahkan kerap menggunakan istilah-istilah merendahkan bagi kaum Syiah pada umumnya. Dalam berbagai ceramah mereka dan di Twitter, para ulama ini, yang kebanyakan menganut paham Wahabi, menyebut Syiah sebagai "rafideen," kata umpatan dalam bahasa Arab yang berarti "orang yang tidak menerima." Mereka mengecam berbagai ritual Syiah, seperti sholat di kuburan tokoh yang dihormati, sebagai penyimpangan dari Islam.

Ketika pembom bunuh diri Saleh bin Abdelrahman al-Qashimi, 20 tahun, melancarkan serangan paling mematikan dalam lebih dari satu dekade di Saudi, menarget sebuah masjid Syiah di Arab Saudi bagian timur bulan lalu, pamannya menuding ulama garis keras Wahabi telah menjerumuskan anak-anak muda seperti keponakannya kepada ekstremisme.

"Mereka menanamkan benih tersebut di otaknya," ujar Mohammed Abdelrazzak al-Qashimi mengenai keponakannya, yang menghilang setahun sebelum melakukan serangan 22 Mei, yang menewaskan 22 jemaah Syiah pada perayaan kelahiran salah seorang tokoh suci mereka.

Pemboman tersebut, dan serangan sepekan kemudian yang menewaskan empat orang di luar sebuah masjid Syiah di kota Dammam, telah diklaim oleh ISIS. Warga di bagian timur Saudi, wilayah dengan jumlah warga Syiah terbanyak, memasang spanduk dengan gambar 11 ulama Wahabi dan berbagai tweet mereka yang anti-Syiah. "Mereka ini adalah pembunuh yang sesungguhnya," katanya.

Bagi banyak warga Syiah Saudi, serangan-serangan tersebut, yang dimulai bulan November ketika delapan jemaah ditembak militan ISIS, tidaklah mengejutkan. Selama hampir tiga tahun, para ulama di negara-negara Teluk menyerukan kepada anak-anak muda untuk bergabung dengan gerakan untuk menggulingkan pemerintah Suriah yang didukung oleh Iran. Ceramah-ceramah dari para ulama tersebut mampu menarik lebih dari 2.500 warga Saudi untuk bergabung dengan kelompok pemberontak Sunni yang memerangi pasukan pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Ini berlanjut hingga tahun lalu, ketika pemerintah Saudi mengeluarkan larangan untuk berperang atau mengajak berperang di luar negeri.

Kementerian Dalam Negeri Saudi mengatakan sekitar 650 tentara militan telah kembali ke dalam negeri, banyak di antara mereka membawa keterampilan yang diperoleh dari medan perang di luar negeri. ISIS lalu mengubah taktik. Mereka menyerukan kepada para pendukungnya di Saudi untuk melakukan serangan di dalam negeri mereka.

Bagi generasi baru ekstremis yang diradikalisasi di dalam negeri ini, ideologi ISIS menarik karena para tentaranya memerangi milisi yang didukung oleh Iran di Suriah dan Irak, menurut Abdulrahman al-Hadlaq, direktur keamanan ideologi di Kementerian Dalam Negeri dan pendiri pusat rehabilitasi ini.

Kelompok militan, yang tadinya adalah al-Qaida di Irak, "menipu daya banyak anak muda" yang melihat para militan sebagai kekuatan yang memerangi milisi Syiah, katanya, menambahkan bahwa lembaganya kini merevisi strategi untuk melawan ancaman ISIS.

Sebuah elemen kunci bagi Saudi untuk memerangi terorisme adalah pusat rehabilitasi Mohammed bin Nayef ini. Didirikan tahun 2007 oleh putra mahkota dengan nama tersebut - ia sendiri pernah menjadi sasaran sejumlah upaya pembunuhan - tujuan pusat ini adalah untuk merehabilitasi melalui pendidikan ulang agama dan bimbingan psikologis bagi para militan yang terlibat dalam berbagai pemboman, penembakan dan penculikan oleh al-Qaida dari 2003-2006.

Dengan ratusan militan memadati penjara-penjara di Saudi, pusat rehabilitasi ini berfokus mencoba mencegah mereka yang telah menjalani hukuman penjara agar tidak kembali mengangkat senjata. Pusat rehabilitasi Mohammed bin Nayef telah merawat 3.000 narapidana dengan kejahatan terkait terorisme, termasuk mereka yang dilepaskan ke tangan pemerintah Saudi dari Guantanamo Bay, dan mengklaim tingkat kesuksesan 87 persen.

Dari 13 persen sisanya, atau sekitar 390, yang telah kembali bergabung dengan kelompok militan, separuhnya telah ditahan kembali. Sebagian di antaranya muncul di Yaman untuk memimpin cabang lokal al-Qaida di sana.

Di pusat ini, para napi - yang disebut sebagai "penerima" oleh para staf - ditempatkan di kompleks gedung-gedung beberapa lantai, yang tampak seperti resor namun dikelilingi oleh dinding beton, kawat berduri dan dijaga oleh petugas bersenjata. Kontak dengan keluarga tak hanya diperbolehkan, tapi juga dianjurkan. Keluarga dan isteri yang berkunjung dapat tinggal apartemen-apartemen di dalam kompleks ini.

Tim pakar di pusat rehabilitasi ini menetapkan kapan napi sudah siap secara mental dan dapat dibebaskan. 'Lulusan' pusat rehabilitasi ini kemudian mendapat bantuan untuk mendapat pekerjaan, mengontrak rumah, membeli kendaraan dan berasimilasi kembali dengan masyarakat.

Berbicara kepada Associated Press di hadapan sejumlah psikologis di pusat rehabilitasi ini, al-Enezi mengatakan program ini, yang ia tamatkan tahun 2012, membantunya memahami doktrin-doktrin agama dari sudut pandang yang berbeda dari apa yang ia pelajari di internet.

Para ulama di sini menjelaskan Quran dengan cara yang membuatnya kini berpikir siapapun yang berperang atas nama 'jihad' di luar negeri sebagai tindakan yang "melayani agenda asing."

John Horgan, penulis "The Psychology of Terrorism," mengatakan Saudi mengadopsi ide de-radikalisasi ini dengan serius dan menggunakan teknik-teknik kreatif di saat negara-negara Barat semakin bergantung pada penyiksaan dan pengiriman pesawat tak berawak.

Walaupun begitu, ia melihat kemunafikan Saudi dalam upaya kontra terorismenya karena mereka belum dapat mencegah warga negaranya bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremis.

"Para kritikus akan mengatakan ini bukan de-radikalisasi sesungguhnya, karena ini hanya pengalihan," kata Horgan. "Yang saya lihat sejauh ini hanya upaya simbolik. Sangat baik bagi pencitraan."

Mohammed al-Nimr, yang saudaranya adalah seorang ulama Syiah Saudi yang vokal, mengatakan mengubah pola pikir anak muda melalui program rehabilitasi tidaklah cukup. Dibutuhkan perubahan besar-besaran terhadap sistem pendidikan sebagai bagian dari strategi kontra terorisme, katanya.

Beralihnya anak muda Saudi kepada ISIS, "adalah hasil dari terorisme ideologis yang diajarkan di sekolah-sekolah kami," katanya. "Mereka tidak mengajarkan kami untuk menghormati orang yang memiliki pandangan berbeda. Mereka menggunakan agama sebagai pembenaran untuk membunuh orang-orang itu."

XS
SM
MD
LG