Tautan-tautan Akses

Saudi Aramco Akan Tingkatkan Investasi di Sektor Migas Indonesia


Kilang minyak Pertamina di Bunyu, Kalimantan Timur. (Foto: Dok)

Kilang minyak Pertamina di Bunyu, Kalimantan Timur. (Foto: Dok)

Saudi Aramco telah memulai proyek US$5,5 miliar untuk meningkatkan kilang pemurnian terbesar di Indonesia.

Saudi Aramco sedang mencari peluang-peluang investasi lebih jauh dalam industri pemurnian hilir dan petrokimia di Indonesia, menurut CEO perusahaan tersebut hari Kamis (26/11), setelah memulai proyek US$5,5 miliar untuk meningkatkan kilang pemurnian terbesar di negara ini.

Komentar-komentar CEO Saudi Aramco berdampak positif bagi upaya-upaya Presiden Joko Widodo untuk menarik investasi setelah membersihkan sektor minyak dan gas yang diguncang serangkaian skandal.

"Indonesia merupakan negara penting bagi Arab Saudi, sebuah ekonomi global yang sedang tumbuh, kami ingin menjadi bagian dari pertumbuhan Indonesia," ujar CEO Saudi Aramco Amin H Al-Nasser dalam penandatanganan persetujuan awal untuk meningkatkan mutu kilang Cilacap, Jawa tengah.

Indonesia akan kembali bergabung dengan organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) sebagai negara anggota ke-13 bulan depan.

Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pemrosesan minyak mentah sampai 370.000 barrel per hari (bph) dari 348.000 bph saat ini, dan kemungkinan juga akan menyertakan perjanjian untuk mengimpor minyak mentah dari Arab Saudi, eksportir minyak mentah teratas dunia.

Peningkatan mutu itu akan mencakup unit baru 'hydro cracker', selain unit-unit untuk meningkatkan produksi paraksilen dan polipropilen, menurut Pertamina.

"Ini peluang besar bagi pertumbuhan di pasar global," ujar Nasser. "Kita harap ini menjadi awal baru."

Aramco juga diperkirakan akan bergabung dalam tender untuk mengembangkan proyek kilang ramah lingkungan di Jawa Timur, menurut Wiratmaja Puja, direktur jenderal minyak dan gas di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Rincian mengenai kemitraan strategis antara Aramco dan Pertamina belum dituntaskan, termasuk bagaimana sebuah perusahaan gabungan antara keduanya akan dibagi.

Indonesia memutuskan pembicaraan mengenai pembangunan dua kilang dengan Aramco dan Kuwait Petroleum tahun 2014 akibat ketidaksepahaman soal pajak dan fiskal.

Harga perdagangan minyak mentah Brent, yang menjadi acuan, pada $45 per barrel mungkin dapat membantu memperbaiki ketertarikan investor terhadap sektor hilir Indonesia, seiring pergerakan Arab Saudi dan perusahaan-perusahaan minyak lainnya untuk mengamankan pasar.

Arab Saudi, produsen teratas OPEC, telah menolak desakan untuk mengurangi hasil produksi untuk mendukung harga-harga, dan sebaliknya fokus dalam mempertahankan pangsa pasar.

Nasser mengatakan Aramco akan memenuhi permintaan-permintaan pelanggan. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG