Tautan-tautan Akses

Sanksi Dicabut, Industri Karpet Iran Ingin Tingkatkan Bisnis

  • Associated Press

Karpet Persia buatan Iran yang terkenal.

Karpet Persia buatan Iran yang terkenal.

Karpet Persia merupakan komoditas non-minyak Iran yang paling menderita akibat sanksi.

Para penenun karpet di Iran sibuk bekerja menyusul perjanjian nuklir historis dengan negara-negara kuat dunia, mengantisipasi peningkatan ekspor seiring rencana penghapusan sanksi dalam beberapa bulan mendatang.

"Karpet tenun tangan Persia adalah duta besar Iran. Saya senang sang duta Rassam Arabzadeh minggu ini. "Karpet Persia itu seperti bendera Iran, dikenal di seluruh dunia. Mari kita kibarkan bendera kita."

Perjanjian tanggal 14 Juli antara Iran dan negara kuat dunia -- Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, China dan Jerman -- dimaksudkan untuk mengekang program nuklir Teheran dengan imbalan penghapusan sanksi-sanksi internasional yang melumpuhkan. Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, AS akan melanjutkan impor-impor karpet Iran, yang terhenti tahun 2010.

Karpet Persia merupakan komoditas di luar minyak yang paling menderita akibat sanksi.

Pasar AS mencakup seperlima dari ekspor karpet Iran. Hamid Kargar, presiden pusat karpet nasional Iran, mengatakan para produsen di republik Islamis tersebut sudah membuat karpet dengan tujuan pasar Amerika dan berharap perdagangan akan dilanjutkan tahun depan.

"Orang-orang dalam bisnis karpet telah mulai memproduksi karpet yang sesuai dengan selera pasar Amerika, menerima pesanan dan bernegosiasi dengan konsumen," ujarnya.

"Sejak 2010, kami kehilangan seperlima dari ekspor kami akibat hilangnya pasar AS. Para pesaing kami menggantikan Iran. Namun kami berharap orang-orang Amerika akan menyambut karpet Persia lagi karena desain dan warnanya yang unik."

Iran mengekspor karpet Persia senilai US$330 juta tahun lalu. Ekspor mencakup dua pertiga produksi karpet Iran, yang sekarang mencapai lebih dari 5 juta meter persegi per tahun.

Republik Islamis tersebut suatu kali merupakan eksportir karpet terbesar di dunia, namun industrinya terhambat sanksi dan kompetisi dari India, Pakistan dan China, yang menjiplak pola-pola tradisional Iran dan menjualnya dengan harga lebih murah.

Arabzadeh, pengekspor karpet, mengatakan ia bersiap merespon beragam konsumen Amerika.

"Orang Amerika dan Kanada lebih suka warna yang lembut, namun generasi yang lebih tua menyukai warna-warna lebih gelap. Kami sedang melakukan evaluasi untuk memenuhi permintaan konsumen dari Amerika," ujarnya.

Harga karpet Persia buatan tangan berkisar antara beberapa ribu dolar sampai jutaan dolar yang dipakai untuk menutupi lantai istana-istana.

Tahun 2000, Iran mengirimkan karpet raksasa buatan tangan kepada Raja Oman, yang bernilai US$5,2 juta. Pada 2006, Iran memproduksi tutup lantai tenunan tangan terbesar di dunia, seharga $8,5 juta, untuk Masjid Sheik Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Iran juga ingin kembali mengekspor kacang pistachio, komoditas non-minyak besar lainnya dari negara itu.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat Sendiri telah menjadi produsen besar pistachio dan impor Iran menghadapi pajak 300 persen. Pajak tersebut diberlakukan untuk melindungi produsen-produsen Amerika, menurut Mohsen Jalalpour, kepala Kamar Dagang Iran.

Namun ia yakin pistachio Iran masih memiliki kelebihan khusus.

"Orang-orang Amerika lebih suka pistachio buatan Iran lebih dari buatan negara mereka sendiri," ujarnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG