Tautan-tautan Akses

Salman Rushdie Sayangkan Radikalisasi Islam


Penulis Salman Rushdie pada acara di John F. Kennedy Presidential Library and Museum di Boston. (Reuters/Jessica Rinaldi)

Penulis Salman Rushdie pada acara di John F. Kennedy Presidential Library and Museum di Boston. (Reuters/Jessica Rinaldi)

Penulis Salman Rushdie mengatakan Islam telah mengalami kemunduran, tidak lagi terbuka seperti yang ia saksikan saat masih muda.

Penulis asal Inggris Salman Rushdie, yang hidup dalam persembunyian selama sembilan tahun menyusul hukuman mati dari pemimpin Iran, mengatakan dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Kamis (20/9) bahwa ada sesuatu yang salah di jantung Islam.

Rushdie mengatakan pada surat kabar Le Monde bahwa masa-masa ia melarikan diri dari fatwa yang dikeluarkan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 membuatnya memperhatikan dengan seksama suatu radikalisasi dunia Muslim.

“Telah terjadi sesuatu yang salah di jantung Islam. Ini sesuatu yang baru. Saya ingat ketika saya masih muda, banyak kota-kota di dunia Muslim yang merupakan kota kosmopolitan dengan beragam budaya,” ujarnya pada wawancara yang diterbitkan dalam bahasa Perancis.

“Bagi saya, ini sebuah tragedi bagaimana budaya ini telah mundur, seperti luka yang dibuat sendiri. Islam pada waktu saya tumbuh dewasa begitu terbuka, dipengaruhi oleh Sufisme dan Hinduisme, tidak seperti yang sekarang menyebar dengan cepat.”

Fatwa untuknya, yang muncul karena novelnya yang terbit pada 1988 berjudul “The Satanic Verses" (Ayat-Ayat Setan), membuat nama Rushdie sinonim dengan pergumulan antara kebebasan ekpsresi dan kebutuhan untuk menghormati sensitivitas agama. Memoar mengenai masa sembilan tahun persembunyian akibat fatwa tersebut diterbitkan minggu ini.

Wawancara tersebut dilakukan pada 12 September, bersamaan dengan film yang mengolok-olok Nabi Muhammad memicu protes penuh kekerasan di dunia Islam. Hal ini termasuk serangan yang menewaskan duta besar AS dan tiga staf kedutaan di Libya.

“Ada suatu batas dimana Anda tidak lagi dapat menyalahkan Barat,” ujar Rushdie pada Le Monde.

“Namun jika ada sedikit tanda bahwa masyarakat Muslim mampu menciptakan demokrasi terbuka, saya akan mengubah pendapat saya.”

Minggu ini, lembaga agama di Iran meningkatkan jumlah hadiah bagi yang dapat membunuh Rushdie, menyusul penerbitan film anti-Islam. (Reuters)
XS
SM
MD
LG