Tautan-tautan Akses

Rusia Veto Resolusi PBB Soal Krimea, China Tak Memilih


Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power berbicara di Dewan Keamanan PBB di New York (15/3).

Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power berbicara di Dewan Keamanan PBB di New York (15/3).

Duta Besar Amerika untuk PBB Samantha Power menyebut kegagalan resolusi itu “saat yang menyedihkan dan luar biasa."

Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendesak negara-negara agar tidak mengakui hasil referendum Minggu ini (16/3), mengenai apakah Krimea memisahkan diri dari Ukraina untuk bergabung dengan Rusia.

Rusia adalah satu-satunya anggota Dewan Keamanan yang memberi suara menentang resolusi itu Sabtu. Tigabelas negara lain anggota dewan mendukung resolusi itu, sedangkan China tidak memilih, namun menyatakan resolusi akan menuai konfrontasi dan kerumitan.

Resolusi itu akan menegaskan kedaulatan Ukraina dengan menyatakan bahwa referendum itu "tidak sah."

Keputusan China bersikap ‘abstain’ bisa berarti pengucilan lebih jauh terhadap Moskow karena mendukung referendum Krimea itu.

Duta Besar Amerika untuk PBB Samantha Power menyebut kegagalan resolusi itu “saat yang menyedihkan dan luar biasa." Duta Besar Rusia Vitaly Churkin mengatakan, resolusi itu berlawanan dengan prinsip-prinsip hukum internasional.

Krimea adalah wilayah Ukraina yang mayoritas penduduknya etnis Rusia. Moskow menyatakan berhak melindungi kepentingannya di Krimea.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan pasukan Rusia telah merebut desa Strilkove, dekat perbatasan Krimea. Tidak ada laporan mengenai tembakan yang dilepaskan, tetapi Kementerian itu mengatakan pengambilalihan itu adalah “pendudukan” dan menuntut tentara Rusia agar pergi. Tetapi penjaga perbatasan Ukraina mengatakan pasukan Rusia hanya menjaga pom bensin di kota itu.

Di tempat lain, pendukung dan penentang aksi Rusia di Krimea saling melancarkan demonstrasi Sabtu.
XS
SM
MD
LG