Tautan-tautan Akses

Rusia Umumkan Hari Berkabung Setelah Kecelakaan Pesawat


Bunga dan lilin ditempatkan untuk mengenang korban jatuhnya pesawat (25/12). Sochi, Rusia. (foto: AP Photo/Viktor Klyushin)

Bunga dan lilin ditempatkan untuk mengenang korban jatuhnya pesawat (25/12). Sochi, Rusia. (foto: AP Photo/Viktor Klyushin)

Presiden Vladimir Putin mengumumkan hari Senin (26/12) sebagai hari berkabung nasional dan para pihak berwenang mengatakan mereka sedang mengkaji semua kemungkinan, termasuk serangan teror, atas jatuhnya pesawat militer Rusia tersebut.

Para pejabat Rusia mengumumkan hari Senin sebagai hari berkabung nasional dan mengatakan mereka telah mengkaji setiap sebab yang mungkin, termasuk serangan teror, atas jatuhnya pesawat penumpang militer Rusia yang diduga menewaskan seluruh 92 orang penumpangnya.

Senin dini hari, Menteri Transportasi Rusia, Maxim Sokolov mengatakan kecelakaan yang terjadi hari Minggu kemungkinan akibat kesalahan pilot atau masalah teknis. Meskipun para pejabat mengatakan kemungkinan bukan karena oleh tindak terorisme, Komite Penyelidik khusus Rusia telah membuka penyelidikan kemungkinan terjadinya tindak kriminal atas terjadinya kecelakaan tersebut.

"Seluruh spektrum dan hampir semua kemungkinan… sedang diselidiki, namun terlalu dini untuk menyebut hal ini sebagai terorisme," ujar Menteri Transportasi Maxim Sokolov kepada para wartawan di kota Sochi, Rusia bagian selatan.

Pesawat tersebut jatuh ke Laut Hitam beberapa menit setelah tinggal landas dari bandar Sochi dalam kondisi cuaca yang bagus, tampaknya menewaskan keseluruhan delapan awaknya dan 84 penumpangnya termasuk lusinan anggota Alexandrov Ensemble yang terkenal di dunia, atau lebih dikenal di seluruh dunia sebagai Koor Tentara Merah.

Pesawat tersebut tidak memancarkan sinyal yang menunjukkan permasalahan dan juru bicara pihak militer Mayor Jendral Igor Konashenkov menjelaskan pilot yang menerbangkan pesawat itu adalah pilot dengan kualitas "kelas satu."

Anggota Kementerian Keadaan Darurat Rusia berjalan di sepanjang dermaga dekat tempat kecelakaan pesawat militer Tu-154 di Laut Hitam, tepatnya daerah Khosta yang terletak di pinggiran kota Sochi, Rusia pada 25 Desember 2016.

Kementerian Pertahanan mengatakan lebih dari 3.000 anggota penyelamat dengan menggunakan 32 kapal, termasuk lebih dari 100 penyelam, terus mencari korban yang mungkin selamat. Para anggota penyelamat didukung oleh helikopter, pesawat tanpa awak, dan wahana bawah air.

Lampu sorot yang bertenaga disertakan juga sehingga usaha penyelamatan dapat diteruskan sepanjang malam. Pada minggu malam, 11 jenazah korban telah ditemukan, begitu juga anggota badan lainnya.

Dalam penampilan di televisi, Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan hari Senin sebagai hari berkabung nasional dan semua usaha akan dilakukan untuk mengetahui alasan jatuhnya pesawat.

“Kami akan melakukan penyelidikan secara seksama terkait dengan alasan jatuhnya pesawat dan akan melakukan segalanya untuk membantu keluarga para korban,” ujar Putin.

Pesawat tersebut sedang menuju ke pangkalan udara Khmeimim di Suriah, di mana anggota koor tersebut dijadwalkan untuk menghibur anggota militer Rusia pada konser Tahun Baru.

Salah satu penumpang di pesawat ialah Yelizaveta Glinka, seorang dokter Rusia yang terkenal dengan kerja amalnya, termasuk misi ke zona peperangan di Suriah dan Ukraina. Glinka sedang dalam perjalanan untuk mengantar pengiriman pasokan obat untuk rumah sakit di Suriah.

Presiden Suriah, Bashar Assad, bergabung bersama dengan pemimpin dunia lainnya yang mengucapkan belasungkawa kepada Putin, dengan berujar ia merasakan “kesedihan yang mendalam” setelah mendengar berita tersebut.

Kedubes AS di Moskow dalam tweetnya hari Minggu mengatakan: "Kami bersimpati dan berdoa untuk para penumpang dan awak pesawat Tu-154 yang jatuh dini hari tadi, dan kami ikut berbelasungkawa bersama-sama dengan rakyat Rusia." [ww/dw]

XS
SM
MD
LG