Tautan-tautan Akses

Rusia Rebut Pangkalan Militer Besar Terakhir Ukraina di Krimea


Pria-pria bersenjata, diyakini merupakan tentara Rusia, berlindung di balik tank saat berupaya merebut pangkalan angkatan udara di Belbek, Krimea (22/3).

Pria-pria bersenjata, diyakini merupakan tentara Rusia, berlindung di balik tank saat berupaya merebut pangkalan angkatan udara di Belbek, Krimea (22/3).

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeir menuding Rusia kembali berupaya memecah Eropa menjadi Timur dan Barat.

Pasukan Rusia dan pendukungnya menyerbu dua basis Ukraina di Krimea, membuat mereka kini sepenuhnya menguasai semenanjung itu.

Sehari sebelumnya, wilayah itu resmi dianeksasi oleh Russia menyusul hasil referendum yang dilakukan terburu-buru dan banyak dikecam oleh komunitas internasional.

Di ibukota Ukraina, sehari setelah pemimpin pemerintah sementara menandatangani perjanjian politik dengan Uni Eropa, Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeir menuding Rusia kembali berupaya memecah Eropa menjadi Timur dan Barat.

Steinmeir mengatakan: "Ini bertolak belakang dengan apa yang kita alami selama beberapa dasawarsa. Dan kami tidak menerima situasi seperti ini dan tidak akan membiarkan terjadi pertumpahan darah lagi."

Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkapkan harapannya bahwa penugasan ke Ukraina sejumlah 200 pemantau dari Organisasi Keamanan Dan Kerjasama Eropa (OSCE) akan mengurangi ketegangan yang ada. Namun Kementerian menolak semua permintaan agar para pemantau diizinkan masuk ke semenanjung Ukraina yang sudah dianeksasi Rusia.

Wakil Amerika untuk OSCE, Daniel Baer mengatakan, misi pemantau ini perlu mendapat akses ke Krimea karena seluruh dunia masih mengakuinya sebagai wilayah Ukraina.

Tiga bulan peristiwa unjuk rasa anti pemerintah di Ukraina, yang menewaskan lebih dari 100 orang, membuat President Viktor Yanukovych melarikan diri dari negaranya. Pemerintah sementara telah ditunjuk dan pemilu dijadwalkan pada 25 Mei.

Perdana Menteri Ukraina sekarang Arseniy Yatsenyuk, mendapat pujian dari Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon karena mendukung rekonsiliasi disaat banyak warga Ukraina merasakan kemarahan dan frustrasi.

"Saya yakin dengan dukungan kuat dari komunitas internasional yang Anda peroleh dan dibawah kepemimpinan Anda, dan juga rakyat yang berani, Anda dapat mengatasi masa yang sulit,” ujarnya.

Sekjen Ban manambahkan bahwa pembicaraan langsung antara Ukraina dan Rusia adalah penting untuk mengurangi ketengangan yang terjadi. Namun tidak ada indikasi hal ini akan terjadi dalam waktu dekat.

Sementara itu, ribuan warga kota Donetsk di Ukraina bagian timur turun ke jalan Sabtu, menuntut hak pilih sebagaimana yang dilakukan warga di Krimea minggu lalu, untuk melepaskan diri dari Ukraina dan menjadi bagian Rusia.

Di antara warga kawasan itu yang ingin tetap berada dibawah kedaulatan Ukraina, ada rasa takut bahwa militer Rusia setiap saat bisa saja menerobos perbatasan dan menduduki wilayah Ukraina sebagaimana yang dialami Krimea.
XS
SM
MD
LG