Tautan-tautan Akses

Rusia Peringati ‘Kudeta 1991’ Pemicu Disintegrasi Uni Soviet


Mikhail Gorbachev (atas) pernah ditahan oleh sekelompok kecil komunis garis keras, yang menentang program reformasinya, pada 19 Agustus 1991.

Mikhail Gorbachev (atas) pernah ditahan oleh sekelompok kecil komunis garis keras, yang menentang program reformasinya, pada 19 Agustus 1991.

Hingga kini, warga Rusia masih sangat terpecah akibat robohnya Soviet dan kemelut ekonomi maupun politik yang terjadi kemudian.

Rusia dengan diam-diam memperingati ulang-tahun ke-20 kudeta yang gagal yang mengakibatkan keruntuhan Uni Soviet.

Hari Jumat, baik Presiden Dmitry Medvedev maupun Perdana Menteri Vladimir Putin tidak mau menanggapi ulang-tahun kudeta yang gagal itu terhadap pemimpin Soviet waktu itu Mikhail Gorbachev.

Di tempat lain, hanya puluhan orang yang berkumpul di Moskow di gedung parlemen yang dinamakan Gedung Putih, untuk memperingati ulang-tahun itu.

Tanggal 19 Augustus tahun 1991, sekelompok kecil kaum komunis berhaluan keras menempatkan Gorbachev dalam tahanan rumah di rumah peristirahatannya di Crimea. Tujuan mereka adalah menghambat program pemimpin Kremlin itu melakukan reformasi politik dan ekonomi yang luas, termasuk mengizinkan otonomi yang lebih besar bagi negara-negara bagian Soviet.

Dalam waktu beberapa jam, ribuan orang berkumpul sekeliling kantor pusat pemerintah Rusia dimana Presiden Rusia Boris Yeltsin berdiri di atas tank untuk mengutuk para pelaku kudeta itu.

Kudeta tersebut terhenti 3 hari kemudian dan Gorbachev pulang ke Moskow. Dalam waktu beberapa minggu, negara-negara bagian Estonia, Latvia dan Lithuania memisahkan diri dari Uni Soviet. Republik Sosialis Uni Soviet, USSR, dibubarkan bulan Desember tahun 1991, kurang dari 75 tahun setelah Revolusi Rusia menegakkan negara komunis itu.

Sampai sekarang, warga Rusia tetap mempunyai pandangan yang sangat bertentangan mengenai keruntuhan Soviet serta kekacauan ekonomi dan politik yang menyusul.

Banyak warga Rusia sependapat dengan Perdana Menteri Putin, yang menyesalkan keruntuhan USSR sebagai malapetaka geopolitik terbesar dalam abad ke-20. Tetapi, banyak analis mengatakan Rusia, dengan penduduknya yang menua dan menciut, kelak akan menyesuaikan diri dengan status purna imperiumnya, sebagaimana telah dilakukan oleh warga Perancis dan Inggris dalam tahun 1960-an.

XS
SM
MD
LG