Tautan-tautan Akses

Rusia Kecam Revolusi di Ukraina


Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev (Foto: dok).

Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev (Foto: dok).

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mempertanyakan keabsahan pemerintah sementara di Ukraina dan kementrian luar negeri Rusia mengklaim cara-cara seperti “diktator” dan “teroris” diterapkan terhadap para penentang pemerintahan baru itu.

Setelah diam berhari-hari, pemerintah Rusia hari Senin bereaksi terhadap pergolakan di Ukraina. Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mempertanyakan keabsahan pemerintah sementara di Ukraina dan kementrian luar negeri Rusia mengklaim cara-cara seperti “diktator” dan “teroris” diterapkan terhadap para penentang pemerintahan baru itu.

Mengacu kepada kekuatan yang menggulingkan presiden Ukraina Viktor Yanukovych, PM Medvedev mengatakan kepada para wartawan di Moskow tidak ada satupun pihak berwenang di Ukraina yang bisa diajak berkomunikasi. Ia menyebut penggulingan Yanukovych sebagai “pemberontakan bersenjata.”

Kementrian luar negeri Rusia menegaskan sentimen itu dan menyebut gejolak akhir-akhir ini di Ukraina sebagai konfrontasi bersenjata antara “preman militan” dan pihak penegak hukum yang hendak melindungi warga sipil. Mereka mendesak rakyat Ukraina agar melawan apa yang disebutnya “kelompok ekstremis yang ingin berkuasa.”

Mereka menuduh parlemen Ukraina bertindak dengan tujuan melanggar hak-hak warga keturunan Rusia dan berbagai etnis minoritas lainnya.

Amerika dan Inggris memperingatkan Rusia agar tidak mengirim pasukan ke Ukraina. Menurut penasihat keamanan nasional Amerika Susan Rice, intervensi oleh militer Rusia akan menjadi “kesalahan sangat serius.”

Hari Minggu, Rusia memanggil pulang duta besarnya untuk Ukraina untuk berkonsultasi mengenai apa yang mereka sebut “situasi yang memburuk di Ukraina.”
XS
SM
MD
LG