Tautan-tautan Akses

Rusia dan Tiongkok Veto Resolusi PBB soal Suriah


Wakil Rusia di DK PBB Gennadi M. Gatilov, bersama wakil Tiongkok, memveto resolusi DK PBB (4/2).

Wakil Rusia di DK PBB Gennadi M. Gatilov, bersama wakil Tiongkok, memveto resolusi DK PBB (4/2).

Pemungutan suara Dewan Keamanan PBB itu diadakan setelah penumpasan berdarah paling baru yang dilakukan oleh rezim Assad.

Rusia dan Tiongkok hari Sabtu kembali memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Suriah, yang mengutuk Presiden Bashar Al-Assad atas aksi penumpasan rakyatnya selama hampir setahun dan mendesaknya untuk mengundurkan diri.

Tiga belas anggota tetap Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi itu, termasuk Amerika, Perancis dan Jerman.

Sekjen PBB Ban Ki-Moon mengutuk resolusi yang gagal disahkan itu dengan mengatakan Dewan Keamanan telah kehilangan kesempatan mengambil tindakan untuk membantu mengakhiri krisis di Suriah. Ban Ki-Moon menambahkan tidak tercapainya kesepakatan mengenai Suriah merongrong peran PBB ketika diperlukannya suara yang kompak.

Setelah pemungutan suara, Duta Besar Amerika Untuk PBB Susan Rice menunjukkan kekecewaan Amerika pada Rusia dan Tiongkok, tetapi ia menyatakan Amerika tidak akan putus asa atau mengabaikan Suriah.

“Amerika muak dengan dua anggota Dewan Keamanan yang terus menghalangi satu-satunya tujuan kita disini, yaitu mengatasi krisis yang makin dalam di Suriah dan meluasnya ancaman terhadap perdamaian dan keamanan kawasan,” kata Susan Rice.

Rusia membela keputusannya dengan mengatakan anggota-anggota Dewan Keamanan merongrong kesempatan penyelesaian politik dengan menyerukan perubahan rejim, mendorong kelompok oposisi untuk berkuasa dan perjuangan bersenjata.

“Rancangan resolusi itu yang diajukan untuk di-voting tidak menggambarkan secara berimbang masalah-masalah di Suriah dan telah mengirim sinyal yang tidak seimbang pula kepada pihak-pihak di Suriah,” jelas Vitaly Churkin.

Duta Besar Rusia Untuk PBB Vitaly Churkin mengatakan Rusia bertekad untuk mengakhiri pertumpahan darah dan akan mengirim Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov dan Kepala Badan Inteljen Luar Negeri Rusia Mikhail Fradkov ke Suriah hari Selasa mendatang, untuk bertemu dengan Presiden Bashar Al-Assad.

Duta Besar Suriah Untuk PBB Bashar Ja’afari menuduh anggota-anggota PBB mendukung apa yang disebutnya teroris bersenjata yang memicu penumpasan terhadap warga Suriah.

Pemungutan suara PBB berlangsung hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Barack Obama mengutuk Suriah atas apa yang disebutnya aksi kekerasan pemerintah Suriah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata terhadap warga kota Homs, yang menewaskan lebih dari 200 orang Sabtu pagi.

Presiden Obama juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bersikap terhadap kebrutalan tanpa henti yang dilakukan Presiden Bashar Al-Assad dan kembali menyerukannya untuk meletakkan jabatan, dengan mengatakan ia tidak berhak memimpin Suriah dan telah kehilangan seluruh legitimasi atas rakyatnya dan masyarakat internasional.

Pemerintah Suriah menyangkal terjadinya serangan dan mengatakan laporan-laporan tersebut merupakan bagian dari kampanye kelompok bersenjata untuk mempengaruhi hasil pemungutan suara Dewan Keamanan PBB.Rusia dan Tiongkok telah memveto lagi resolusi Dewan keamanan PBB mengenai Suriah yang mengutuk Presiden Bashar al Assad yang hampir setahun telah menindak keras rakyatnya.

Ke-15 anggota Dewan Keamanan memberikan suara atas resolusi yang didukung Barat dan Arab yang mengutuk tindak kekerasan dan meminta Presiden Assad agar meletakkan jabatan. Tiga belas anggota Dewan Keamanan menyatakan mendukung, termasuk Amerika, Perancis dan Jerman.

Pemungutan suara Dewan Keamanan PBB itu diadakan setelah penumpasan berdarah paling baru yang dilakukan oleh rezim Assad.

Pasukan keamanan Suriah melepaskan tembakan mortir dan artileri ke arah kota Homs, Suriah, Sabtu pagi, menewaskan lebih dari 200 orang.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon mengecam resolusi yang gagal itu dengan mengatakan, Dewan keamanan telah kehilangan kesempatan mengambil tindakan untuk mengakhiri krisis.

Ban Ki Moon mengatakan keputusan yang tidak meyakinkan mengenai Suriah merongrong peranan PBB pada waktu diperlukannya suara yang kompak terhadap pemerintahan Assad supaya mengakhiri tindak kekerasan terhadap rakyatnya.

Veto Rusia dan Tiongkok menyampaikan pernyataan yang jelas beberapa jam setelah Presiden Amerika Barack Obama menyerukan kepada Dewan keamanan PBB untuk mengambil sikap menentang Presiden Suriah Bashar al Assad yang kejam itu.

Setelah pemungutan suara, Dutabesar Amerika Susan Rice mengatakan, Amerika kecewa dengan sikap Rusia dan Tiongkok, tetapi menyatakan bahwa Amerika tidak akan putus asa atau mengabaikan Suriah.

“Amerika muak dengan dua anggota Dewan keamanan yang terus menghalangi satu-satunya tujuan kita di sini; mengatasi krisis yang terus mendalam di Suriah, dan memperbesar ancaman terhadap perdamaian dan keamanan regional,” tambah Susan Rice.

Rusia membela keputusannya, mengatakan, para anggota Dewan Keamanan merongrong kesempatan untuk penyelesaian politik dengan menyerukan perubahan rezim, mendorong pihak oposisi ke arah kekuasaan dan mendorong perjuangan bersenjata.

Dutabesar Rusia untuk Amerika Vitaly Churkin mengatakan, Rusia bertekad mengakhiri pertumpahan darah, dan mengambil tindakan.

Hari Sabtu Rusia mengumumkan, akan mengirim Menteri Luar negeri Sergei Lavrov dan Kepala Badan Intelijen Luar negeri Rusia, Mikhail Fradkov ke Suriah hari Selasa untuk bertemu dengan Assad.

Sebelum pemungutan suara Dewan Keamanan telah menolak usul Rusia yang menghendaki resolusi itu sama-sama mengutuk tindak kekerasan yang dilakukan pihak-pihak yang anti dan pro pemerintah.

Sementara itu, Tunisia memutuskan untuk mengusir Dutabesar Suriah dari Tunisia dan mengakhiri pengakuannya terhadap Pemerintah Assad.

XS
SM
MD
LG