Tautan-tautan Akses

Rusia Abaikan 'Pengurangan Bahaya' dalam Tangani Kasus HIV

  • Daniel Schearf

Penggunaan narkoba suntik yang marak di Rusia, menjadi salah satu sebab merebaknya penularan virus HIV di sana (foto: ilustrasi).

Penggunaan narkoba suntik yang marak di Rusia, menjadi salah satu sebab merebaknya penularan virus HIV di sana (foto: ilustrasi).

Menteri kesehatan Rusia mengatakan penyebaran HIV virus yang menyebabkan penyakit AIDS “kritis” di 10 wilayah Rusia, bertolak belakang dengan kecenderungan penurunan tingkat infeksi di seluruh Eropa.

Para pengecam mengatakan epidemi HIV Rusia disebabkan karena keengganan Rusia melakukan program-program pengurangan bahaya yang efektif seperti penukaran dengan jarum bersih dan program-program candu pengganti, tapi sebaliknya berfokus pada abstinensi atau 'pemantangan' (berpantang melakukan hubungan seksual).

Haidar, usia 38 tahun, yang hanya mau disebut nama depannya mulai menggunakan heroin sejak remaja. Ia menganggap narkoba suntik sebagai bagian dari gaya hidup kriminal yang menyebabkan ia dihukum penjara selama 13 tahun dan tertular HIV.

“Saya tahu mengidap HIV tahun ini. Saya terkena TB-HIV yaitu terkena tuberkulosis dan HIV,” tuturnya.

Meskipun tingkat infeksi HIV di Eropa turun, jumlah warga Rusia yang terinfeksi HIV meningkat sampai 10% per tahun dan baru-baru ini jumlahnya melampaui satu juta orang.

Sebagian besar dari mereka itu terkena virus itu seperti Haidar, karena menggunakan jarum suntik atau paraphernalia yang tercemar bersama.

“Ada beberapa orang yang saya kenal baik, yang terinfeksi. Tidak banyak, tapi ada beberapa. Tetap saja mereka masih menggunakan narkoba. Mereka minum obat tapi terus menggunakan heroin,” imbuhnya.

Haidar mengatakan ia akan memanfaatkan program pertukaran jarum bersih kalau saja program itu tersedia.

Tapi Rusia menarik dukungan bagi program-program semacam itu beberapa tahun lalu dan menyatakan candu pengganti sebagai terapi ilegal, meskipun telah terbukti mengurangi penyebaran HIV.

Pihak berwenang berpendapat program-progran semacam itu mendorong ketergantungan obat-obatan.

Rehabilitasi bagi pecandu narkoba suntik bisa berhasil, paling tidak untuk mereka yang terhindar dari HIV dan mendapat pertolongan sebelum terlambat.

“Di antara teman-teman yang menggunakan obat-obatan bersama saya, saya bisa katakan ada tujuh orang dan hanya dua yang masih mencandu narkoba dan terjangkit HIV, lainnya semua sudah meninggal,” kata Dmitry Baranov.

Para pengecam mengatakan Rusia terlampu berfokus pada argumen moral untuk berpantang dan pendidikan.

“Ini kebijakan yang lemah dan tidak efektif. Kebijakan yang efektif memerlukan layanan langsung, kontak langsung dengan manusia. Kebijakan itu juga memerlukan pelatihan untuk menyampaikannya ke sekolah-sekolah dan kepada lapisan masyarakat yang paling rentan,” ujar Alexander Savitsky.

Tapi pihak berwenang Rusia enggan untuk mengatasi masalah HIV pada tingkat jalanan.

Bulan Juni mereka mencap satu-satunya kelompok di Moskow yang memberikan jarum bersih dan nasihat kepada para pecandu sebagai “agen-agen asing,” yang berarti kegiatan-kegiatannya dianggap politis. [my/ds]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG