Tautan-tautan Akses

Romney dan Obama Berfokus pada Kebijakan Luar Negeri

  • Leonard Triyono

Capres Partai Republik, Mitt Romney mengritik kebijakan luar negeri pemerintahan Obama di mana, menurut Romney, bantuan AS untuk negara lain tidak selalu efektif (foto: dok).

Capres Partai Republik, Mitt Romney mengritik kebijakan luar negeri pemerintahan Obama di mana, menurut Romney, bantuan AS untuk negara lain tidak selalu efektif (foto: dok).

Setelah saling serang terkait isu-isu dalam negeri, terutama mengenai ekonomi AS, kini topik kampanye Mitt Romney dan Presiden Obama bergeser ke isu-isu yang berhubungan dengan kebijakan luar negeri.

Setelah saling serang terkait isu-isu dalam negeri, terutama mengenai ekonomi Amerika yang sedang lesu dan prestasi Presiden Barack Obama dalam mengatasi pengangguran yang dianggap gagal oleh Partai Republik, serta serangan balik kubu kampanye Presiden Obama terhadap Mitt Romney yang dituduh membayar pajak terlalu rendah, kini topik kampanye mulai bergeser ke isu-isu yang berhubungan dengan kebijakan luar negeri, di mana Obama dianggap lebih unggul dari Romney.

Enam minggu atau tepatnya 42 hari sebelum pemilu tanggal 6 November, kontes perebutan suara pemilih di swing States atau negara-negara bagian yang kecenderungan pilihan politik warganya masih sulit ditebak terus berlanjut. Dari peta politik, hasil pemilihan di negara-negara bagian ini akan sangat menentukan pemenang dalam pemilihan presiden mendatang.

Berbeda dengan sebelumnya, isu kampanye kali ini mulai bergeser dari isu-isu dalam negeri ke kebijakan luar negeri. Walaupun pukulan-pukulan dalam iklan televisi dan radio masih frontal, nada kampanye kali ini pun mulai melunak. Baik Presiden Obama maupun Mitt Romney hari Selasa menjabarkan visi masing-masing mengenai peran Amerika dalam kancah global, sambil terus melakukan pukulan-pukulan politik yang halus dalam pidato masing-masing mengenai kebijakan luar negeri Amerika. Pesan dalam pidato itu umumnya mengacu pada protes-protes keras di Timur Tengah dan Dunia Muslim serta persaingan ketat kedua kubu di dalam negeri.

Mitt Romney, calon Partai Republik, tersenyum dan bercanda dengan Bill Clinton, lawan politiknya dari Partai Demokrat sebelum menyampaikan pidato yang menyindir Presiden Barack Obama tidak berbuat cukup untuk mengatasi kekacauan di luar negeri.

Sekitar tiga kilometer dari tempat pidato Romney, dalam pidato di depan Sidang Umum PBB, Presiden Barack Obama secara tidak langsung menyindir pernyataan Romney dalam video yang direkam secara rahasia dalam acara penggalangan dana terbatas, bahwa dia tidak begitu yakin dengan prospek perdamaian antara Israel dan Palestina.

“Di antara bangsa Israel dan Palestina, masa depan tidak boleh dimiliki oleh orang yang berpaling dari prospek perdamaian,” ujar Obama.

Mitt Romney juga menghindari kecaman langsung terhadap Presiden Obama ketika menyampaikan refleksi dalam pertemuan tahunan Clinton Global Initiative yang dihadiri oleh para pemimpin perusahaan, kemanusiaan, dan politik. Calon presiden dari Partai Republik itu mengatakan bantuan Amerika hendaknya lebih efektif dalam mengangkat martabat manusia dan menimbulkan perubahan yang langgeng di negara-negara berkembang yang dicemari oleh ketidakstabilan dan kekerasan, termasuk kematian Duta Besar Amerika di Libya.

“Terlalu sering kemurahan kita untuk beramal sebagai bangsa di dirusak oleh fakta bahwa bantuan kita tidak selalu efektif. Kita telah mendengar laporan dan kasus-kasus di mana bantuan Amerika dialihkan ke pemerintahan yang korup. Oleh karena itu tahun demi tahun bantuan kita tampaknya tidak pernah bisa menghilangkan penderitaan dan kesulitan,” kritik Romney.

Dalam pidatonya, Romney menyebut kematian Duta Besar Amerika untuk Libya Chris Stevens sebagai akibat serangan teroris, istilah yang tidak digunakan oleh Presiden Obama tapi dipakai oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Presiden Obama mengatakan di depan Sidang Umum PBB di New York bahwa kekerasan di Libya “adalah serangan terhadap Amerika” dan menghimbau para pemimpin dunia agar ikut menghadapi akar penyebab kemarahan di seluruh Dunia Muslim.

Sementara itu, jajak pendapat di swing states atau negara-negara bagian yang kecenderungan pilihan warganya masih berubah-ubah menunjukkan Presiden Obama mengalami lonjakan jumlah simpatisan sejak Konvensi Nasional Partai Demokrat, di mana Bill Clinton memberikan pembelaan atas prestasi ekonomi Presiden Obama dan mengatakan Romney “gagal dalam ujian pertanggungjawaban fiskal,” di antara kecaman-kecaman lainnya.

Polling yang dilakukan harian Washington Post itu menunjukkan Obama unggul dari Romney dengan angka 52 lawan 44 persen di Ohio, di mana Romney akan bergabung dengan Paul Ryan untuk berkampanye di negara bagian itu hari Selasa dan Rabu. Masih menurut jajak pendapat Washington Post, di Florida, Obama juga unggul dengan 51 lawan 47 persen atas Romney. Di Wisconsin, negara bagian asal Paul Ryan, menurut polling ABC/New York Times perbedaan itu mencapai enam persen, yakni 51 persen untuk Obama dibanding 45 persen untuk Mitt Romney.
XS
SM
MD
LG