Tautan-tautan Akses

Robot Ilmuwan Bantu Buat Obat Baru


Robot Ilmuwan bernama Eve (University of Manchester)

Robot Ilmuwan bernama Eve (University of Manchester)

Universitas Manchester bermitra bersama robot untuk menemukan senyawa yang bisa mungkin bisa mengobati penyakit malaria dan penyakit tropis lainnya.

Robot sudah menjadi mitra di laboratorium. Di Universitas Manchester di Inggris, robot ilmuwan bernama Eve menemukan senyawa yang diketahui mempunyai kandungan anti-kanker yang juga bisa digunakan untuk mengembangkan obat malaria dan penyakit tropis lainnya.

Eve mengikuti jejak Adam, robot ilmuwan yang dibuat oleh Laboratorium Otomasi universitas tersebut pada tahun 2009 untuk melakukan riset. Adam dan Eve tidak kelihatan seperti manusia. Mereka berbentuk persegi dan ukurannya sebesar mobil. Mereka punya kualitas mesin robot yang mungkin Anda pernah lihat di pabrik otomotif.

Pemimpin tim Ross King mengatakan Adam melahirkan penemuan di bidang yeast, jamur yang digunakan dalam biologi sebagai model sel manusia.

“Adam mengambil hipotesis terhadap fungsi tertentu gen yang ada di dalam yeast dan menguji hipotesis ini melalui eksperimen dan mengkonfirmasinya," ujarnya. "Jadi Adam mengambil hipotesis dan mengkonfirmasi pengetahuan ilmiah baru.”

Ini adalah yang pertama untuk robot. Keberhasilan Adam menjadi dasar bagi Eve. Misi sains Eve berfokus pada penyakit tropis dan penyakit langka, yang mengambil hidup jutaan orang dan menginfeksi jutaan lainnya. King mengatakan kondisi ini dihiraukan karena pada umumnya perkembangan obat lambat dan memakan biaya besar. Dibutuhkan satu dekade atau lebih untuk bisa memasarkan obat baru, dan biayanya sekitar 1 juta dollar. Pabrik obat kemungkinan tidak mendapatkan keuntungan dari investasi itu.

Eve belajar dari keberhasilannya

King mengatakan Universitas Manchester mengembangkan alat tes yang murah, tes yang menandakan apakah satu bahan kimia bisa menjadi obat yang bagus, dan menugaskan Eve untuk melakukan penelitian.

“Cara kerja konvensionalnya adalah menggunakan robot dan koleksi obat-obatan yang banyak," ujarnya. "Mengetes setiap senyawa yang sedang diuji coba. Jadi catatan tentang suatu senyawa diambil sejak awal dan terus berlanjut sampai selesai, kemudian berhenti. Prosesnya tidak terlalu cerdas. Robot tidak mempelajari apapun ketika uji coba sedang berjalan, walaupun sudah mengetes jutaan senyawa, tetap tidak tahu apa yang akan terjadi ketika menguji coba senyawa baru."

Ini bedanya Eve dengan robot lainnya. Robot ini mempelajarinya ketika melakukan uji coba, King menjelaskan, "agar ia kemudian bisa mengeliminasi senyawa yang tidak bagus dan hanya menguji coba senyawa yang mempunyai probabilitas paling tinggi untuk berguna.”

Itu cara Eve secara tidak sengaja menemukan senyawa yang mungkin bisa mengobati malaria dan penyakit tropis lainnya.

Mempercepat dan mengurangi biaya pengembangan obat

King berharap proses ini bisa sepenuhnya menjadi otomatis, dimana robot melakukan tes dan meyintesis zat kimia baru. Ia menekankan bahwa walaupun robot sudah menjadi mitra di laboratorium, manusia tetap memegang kendali.

“Manusia berpikir strategis tentang apa yang penting untuk dikerjakan, dan mengatur pengetahuan dasar dan struktur proses," ujarnya.

Selengkapnya mengenai Eve dan Adam bisa dibaca di jurnal Royal Society minggu ini, Interface.

XS
SM
MD
LG