Tautan-tautan Akses

Ribuan Demonstran di Yordania Tuntut Pemerintah Mundur dan Pemilu Parlemen

  • Heather Murdock
  • Djoko Santoso
  • Dewi Sitompul

Ribuan demonstran melakukan unjuk rasa terbesar di ibukota Amman setelah usai shalat Jumat dengan membawa bendera nasional Yordania (25/2).

Ribuan demonstran melakukan unjuk rasa terbesar di ibukota Amman setelah usai shalat Jumat dengan membawa bendera nasional Yordania (25/2).

Di bawah pengawalan ketat, ribuan demonstran melakukan unjuk rasa damai di jalan-jalan ibukota Amman.

Di bawah pengawalan ketat, ribuan demonstran termasuk anggota Ikhwanul Muslimim, kelompok-kelompok pemuda dan partai-partai politik kecil ke jalan di Amman menuntut pemerintah mundur dan diadakannya pemilu parlemen.

Sementara protes terhadap pemerintah terus berlanjut di Timur Tengah, pemrotes di Yordania turun ke jalanan selama 8 minggu berturut-turut hingga Jumat, yang merupakan demonstrasi terbesar sejauh ini.

“Rakyat menuntut pemerintah terpilih” teriak mereka, sebelum mencela PM yg baru dipecat dan PM Marouf Bakhit, yg keduanya diangkat oleh Raja Abdullah II. Setelah shalat Jum’at, para demonstran dari berbagai kelompok termasuk partai oposisi terbesar Ikhwanul Muslimin, turun ke jalan dikota-kota yg dijaga oleh ribuan polisi.

Tetapi berbeda dengan bentrokan-bentrokan berdarah yg menodai berbagai protes di Timur Tengah dan melukai 8 orang di Yordania minggu lalu, protes hari Jumat ini berlangsung damai.

Polisi membagi-bagikan jus buah dan minuman botol, dan demonstran membubarkan diri dengan cepat ketika protes berakhir secara resmi, Jumat petang.

Terlepas dari aksi protes damai di Yordania, para aktivis mengatakan mereka tidak akan tawar menawar dengan tuntutan mereka. Seorang aktivis, Omar Abu Rasah mengatakan ia bersiap tidur di jalanan hingga keluar jaminan mengenai pemilu resmi dan era kebebasan di Yordania

Raja Yordania, Abdullah berbicara di Amman (20/2). Demonstran menghendaki pembatasan atas kekuasaan kerajaan dan jaminan atas hak-hak rakyat.

Raja Yordania, Abdullah berbicara di Amman (20/2). Demonstran menghendaki pembatasan atas kekuasaan kerajaan dan jaminan atas hak-hak rakyat.

“Kami menghendaki pemerintah yg terpilih lewat pemilu. Kami menginginkan kekuasaan berada di tangan rakyat. Secara langsung-seperti Magna Charta-seperti yg terjadi di Inggris. Kami menghendaki perubahan, sekarang juga di Yordania,” demikian Omar.

Seperti kebanyakan demonstran lainnya, Omar mendukung kerajaan Yordania tetapi menghendaki hak pilih lewat reformasi hukum seperti Magna Charta yg terkenal di abad ke-13, yg membatasi kekuasaan kerajaan Inggris dan menjamin hak-hak rakyat.

Omar menambahkan, “Kami akan tetap mempertahankan kerajaan dan raja, tetapi menghendaki rakyat yg berkuasa.”

Pemrotes mengatakan mereka menghendaki penyelidikan yg cepat terhadap semua tuduhan korupsi dan diadakan reformasi ekonomi. Wartawan Yordania, Tariq Al Hamedy mengatakan dia telah meliput demonstrasi itu selama dua bulan ini dan protes tersebut terus membesar. Hamedy mengatakan berbagai protes telah menarik sebagian besar rakyat golongan ekonomi menengah yg hidup dengan penghasilan kurang lebih 350 dollar per bulan, di kota termahal di Timur Tengah itu.

Tetapi, berbeda dari protes-protes sebelumnya, Hamedy mengatakan protes yg berlangsung saat ini telah menarik lebih banyak lagi para pendukung tradisional pemerintah dari luar ibukota Amman. Kelompok-kelompok ini, lanjutnya lagi bergerak menentang pemerintah dan menuntut hak-hak mereka.

XS
SM
MD
LG