Tautan-tautan Akses

RI Pertimbangkan Permintaan AS untuk Bekukan Aset Terduga Teroris


Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin berkunjung ke Washington untuk pembicaraan dengan Jaksa Agung AS (foto: VOA/Vina).

Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin berkunjung ke Washington untuk pembicaraan dengan Jaksa Agung AS (foto: VOA/Vina).

Indonesia akan mempertimbangkan permintaan Amerika Serikat untuk membekukan aset beberapa orang yang diduga teroris dan terkait dengan pemboman Hotel Marriott.

Selain Dr. Azahari, Noordin M. Top dan para pelaku lain yang telah terbukti melakukan pemboman Hotel JW Marriott Jakarta beberapa tahun lalu, AS menduga ada beberapa terduga teroris lainnya yang terlibat dalam insiden tersebut dan kini masih berkeliaran di Indonesia. Hal ini disampaikan Jaksa Agung AS Eric Holder ketika menerima kunjungan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin hari Jumat pagi (30/5) di Departemen Kehakiman AS.

Ditemui di KBRI Washington DC Jumat sore, Amir Syamsuddin mengatakan kepada VOA bahwa Indonesia diminta AS untuk memburu para terduga teroris tersebut.

“Indonesia diharapkan peranan dan partisipasinya untuk mendukung tindak lanjut dari upaya AS untuk juga memproses beberapa nama yang saya kira tidak perlu disampaikan di forum ini karena saya terus terang baru pertama kali mendengar nama itu, karena sepanjang persidangan terbuka di Indionesia sejak awal hingga vonis dijatuhkan, tidak ada nama-nama lain selain mereka yang diadili,” ujar Amir Syamsuddin.

Ketika didesak mengenai siapa saja nama orang-orang ataupun organisasi teroris yang menjadi perhatian pemerintah AS itu, Syamsuddin menolak untuk merincikannya.

“Tidak begitu jelas juga ya, namanya mirip Indonesia, tapi saya sendiri belum mendapatkan data mengenai kelengkapan data mengenai identitas orang yang disebutkan tadi. Itu lebih ke arah keinginan AS agar kita melakukan pembekuan aset yang mana hanya mungkin kita lakukan kalau ada prosedur hukum dan wajib bagi seseorang menjadi tersangka dulu,” tambahnya.

Untuk menindaklanjuti temuan AS itu, Syamsuddin mengatakan telah menunjuk tim teknis untuk mendalaminya. Tim teknis ini terdiri dari Kementrian Hukum dan HAM, Kejaksaan, Kepolisian, Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

“Ini masih informasi awal, belum bisa dibilang bukti awal. Tentu polisi Indonesia akan melakukan proses untuk mendapatkan bukti awal. Kalau bukti awal ditemukan, prosesnya mungkin akan berlanjut,” katanya.

Hotel milik AS, JW Marriott Jakarta dilanda bom pada tahun 2003 yang menewaskan 12 orang. Ledakan kembali mengguncang hotel tersebut serta hotel Ritz Carlton di dekatnya pada tahun 2009 dan menewaskan sembilan orang.

Selain membahas isu terorisme, pertemuan antara Syamsuddin dan Holder yang hanya berlangsung selama 30 menit itu juga menyinggung soal beberapa warga AS yang bekerja sebagai guru Jakarta International School. Syamsuddin mengatakan Holder mempertanyakan tentang status keimigrasian mereka.

“Saya jelaskan bahwa kami tidak punya intensi untuk melanggar hak siapapun juga tetapi kewajiban setiap orang asing di negara kami harus mematuhi dengan baik aturan keimigrasian yang berlaku. Saya tidak menyanggah banyak lebar karena saya sudah jelaskan secara terbuka dan jelas kepada Dubes AS di Indonesia dan nampaknya Eric sudah banyak mendapatkan informasi dari sana,” jelas Amir Syamsuddin.

Seperti diketahui, TK JIS tersandung kasus pelecehan seksual yang diduga melibatkan lebih dari satu korban anak-anak. Sejak mencuatnya kasus itu, para pengajar asing di sekolah internasional itu pun tidak terlepas dari pemeriksaan pihak berwenang, termasuk petugas imigrasi yang mengecek keabsahan visa kerja mereka.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG