Tautan-tautan Akses

RI, Filipina, dan Malaysia Kerjasama Amankan Perairan Sulu


Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta hari Rabu 3/8 (Foto: Biro Pers Kepresidenan).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta hari Rabu 3/8 (Foto: Biro Pers Kepresidenan).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, Pemerintah Indonesia berharap kesepakatan kerjasama pengamanan Indonesia, Fiipina, dan Malaysia dapat segera dilakukan untuk mengantisipasi kasus penyanderaan di masa mendatang.

Penculikan dan penyanderaan terhadap warga sipil khususnya warga negara Indonesia di perairan Sulu Filipina oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf, membuat koordinasi tiga negara antara Indonesia, Filipina dan Malaysia terus dilakukan. Peningkatan kerjasama pengamanan bersama tiga negara itu kembali dilakukan setelah pertemuan di Yogyakarta 5 Mei lalu.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Istana Merdeka Jakarta Rabu (3/8) menjelaskan, ketiga negara sepakat memasukkan klausul latihan bersama dalam Framework of Agreement (FOA). Hal ini dilakukan guna memperkuat pengamanan perairan Sulu Filipina.

"Ketiga pihak menyiapkan apa yang dinamakan Framework of Agreement/FOA, untuk pengamanan perairan Sulu dan sekitarnya. Ada 6 butir yang dihasilkan. Pertama, patroli bersama. Kedua, bantuan darurat. Ketiga, sharing inteligence. Keempat, hotline communication. Kelima, latihan bersama. Dan keenam, automatic identification system," ungkap Retno.

Pemerintah Indonesia, lanjut Retno, berharap 6 kesepakatan itu dapat segera dilakukan untuk mengantisipasi kasus-kasus penculikan dan penyanderaan di masa mendatang.

"Kita harapkan dengan kesepakatan yang dihasilkan oleh para menteri pertahanan ketiga negara, maka enam kerjasama ini dapat segera diimplementasikan. Karena kerjasama konkret di lapangan dapat segera di lakukan untuk menghindari penculikan sandera di masa yang akan datang," tambahnya.

Pembebasan Sandera WNI

Sementara itu, terkait dengan kasus penyanderaan 7 warganegara Indonesia oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pembebasan 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok sipil bersenjata di Filipina Selatan memerlukan langkah yang sangat hati-hati.

"Suasana di lapangan sangat dinamis. Dan ini memerlukan suatu pendekatan yang sangat hati-hati. Sekali lagi saya ingin tekankan keselamatan warganegara kita merupakan prioritas utama," papar Retno.

Upaya pembebasan ini, lanjut Retno, juga dilakukan beriringan dengan komunikasi dengan pihak keluarga untuk meyakinkan komitmen Pemerintah dalam pembebasan yang dilakukan dengan selamat.

Selanjutnya Retno mengatakan, "Kita yakinkan kepada keluarga mengenai komitmen pemerintah untuk sesegera mungkin dapat membebaskan. Tetapi tentunya situasi lapangan dari waktu ke waktu tidak sama. Kesulitan di lapangan juga tidak sama. Kesulitan di lapangan tidak pada tempatnya disampaikan kepada keluarga."

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pihak TNI terus menjalin komunikasi dengan militer Filipina untuk memastikan keselamatan para sandera.

"Saya koordinasi komunikasi terus dengan Menteri Pertahanan Filipina, saya bilang kalau bisa secepatnya. Dia bilang, “tenang, kita lagi nyerbu”, Militer Filipina turunkan 10 ribu personel tentara atau 1 divisi. Sementara para sandera masih aman, masih sehat," kata Ryamizard.

Senada dengan Retno Marsudi, Ryamizard Ryacudu berpendapat upaya pembebasan para sandera harus dilakukan dengan kesabaran.

"Operasi militer itu risikonya banyak. Pasti ada yang mati. Makanya para penyandera itu pisah para korban. Kita harus pake siasat dan sabar. Serbu-serbu itu gampang. Perang itu gampang. Bagi saya perang itu kecil, tapi menyelamatkan orang yang sulit," tutur Ryamizard.

Tujuh orang warga Indonesia disandera oleh kelompok bersenjata di wilayah Filipina Selatan pada 20 Juni 2016. Para sandera dari kapal Charles 00 itu diculik dalam perjalanan menuju Indonesia. Intelijen Filipina menyebut pelaku penyanderaan adalah kelompok Abu Sayyaf di bawah pimpinan Majal

Adja atau "Apo Mike". Kelompok bersenjata ini menculik tujuh orang dari 13 awak kapal dan kabur menuju wilayah Tawi-tawi.

Sebelum kasus ini, 14 pelaut Indonesia telah dibebaskan dalam dua periode yaitu April dan Mei lalu setelah disandera di wilayah Filipina Selatan oleh kelompok Abu Sayyaf. [aw/uh]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG