Tautan-tautan Akses

RI, AS, Perancis dan Rusia Siap Jalin Kerjasama untuk Berantas ISIS


Dari kiri: Dubes AS Robert Blake, Dubes Perancis Corrine Breuze, Dubes Rusia Mikhail Galuzin, Kepala BNPT Saud Usman Nasution, dan Heru P. Yudha (FPCI), dalam seminar "Evolving Multilateral Coalition Against ISIS" di Jakarta, Selasa 8/12 (courtesy: FPCI).

Dari kiri: Dubes AS Robert Blake, Dubes Perancis Corrine Breuze, Dubes Rusia Mikhail Galuzin, Kepala BNPT Saud Usman Nasution, dan Heru P. Yudha (FPCI), dalam seminar "Evolving Multilateral Coalition Against ISIS" di Jakarta, Selasa 8/12 (courtesy: FPCI).

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin memastikan, Rusia siap bergabung dengan negara-negara lain untuk bersatu memerangi aksi terorisme dari kelompok ISIS.

Peristiwa serangan bersenjata kelompok militan Negara Islam Irak Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di kota Paris Perancis, membuat banyak negara di dunia menempatkan kelompok ISIS sebagai musuh bersama.

Dalam sebuah seminar di hotel Borobudur Jakarta Selasa (8/12) Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake menegaskan, ISIS harus segera dihancurkan. Negara-negara di dunia seperti Indonesia, Perancis dan Rusia, harus bersatu dalam memberantas ISIS.

Blake menekankan perlunya upaya mencegah ISIS merekrut anggota lebih banyak. Amerika – ujar Blake – menilai ISIS bukan memperjuangkan Islam, dan perang melawan teror bukan perang antara Barat melawan Islam.

"Ini bukanlah perang antara barat dengan Islam. Tapi ini adalah berang bersama menghadapi aksi teroris dari ISIS. Perang di Suriah sudah berlangsung selama lima tahun. Oleh sebab itu, Presiden Barack Obama bertekad untuk menghancurkan ISIS," tegas Blake.

Blake menambahkan, Presiden Obama memiliki pasukan khusus - baik itu di darat maupun udara - untuk memerangi ISIS sampai tuntas. Kini lanjut Blake, Amerika telah sudah mengintensifkan serangan ke Suriah dan berencana untuk mengerahkan pasukan darat ke Irak untuk memberantas ISIS.

Sementara itu, Duta Besar Perancis untuk Indonesia Corrine Breuze menjelaskan pasca penyerangan bersenjata dari ISIS di kota Paris, pemerintahnya telah mengambil tindakan tegas. Saat ini lanjut Corrine, negaranya berkordinasi dengan Rusia untuk melakukan penyerangan terhadap ISIS, khususnya di wilayah Raqqa.

Corrine mengatakan, "Kami tingkatkan koordinasi kami untuk hancurkan ISIS khususnya di Raqqa dan kami bekerja sama dengan Presiden Putin untuk melakukannya. Ini semua kami lakukan seminggu setelah penyerangan terhadap kota Paris. Prancis saat ini mengerahkan tenaga untuk gempur ISIS di sana."

Corrine menambahkan, saat ini Perancis tengah mengerahkan enam ribu tenaga tambahan untuk menjaga keamanan di seluruh Prancis. Perancis mengimbau seluruh negara melawan propaganda yang di selalu digembar-gemborkan ISIS melalui situs dan sosial media. Ini perlu dilakukan agar pengikut ISIS tidak lagi bertambah.

Dalam forum yang sama, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan Rusia adalah salah satu negara yang menjadi sasaran utama ISIS. Oleh karena itu Rusia telah meningkatkan keamanan, termasuk bergabung dengan negara-negara lain untuk bersatu memerangi ISIS.

"Rusia memang menjadi target utama terorisme saat ini. Koalisi anti ISIS harus bekerja keras untuk menghancurkan kelompok terorisme tersebut. Rusia siap untuk berperang melawan ISIS dan kelompok terorisme serta radikalisme lainnya agar tidak lagi jatuh korban-korban yang tidak bersalah," ungkap Mikhail.

Ditambahkannya, pasca-serangan teroris di Paris, Dewan Keamanan PBB telah mengadopsi resolusi 2249 yang mendesak semua negara anggota untuk mengkoordinasikan kekuatan guna menghancurkan ISIS sesuai hukum internasional dan piagam PBB. Resolusi ini menurut Mikhail Galuzin cukup untuk mendasari terbentuknya sebuah koalisi internasional anti-ISIS yang dibutuhkan untuk meredam ancaman tersebut.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution mengatakan ISIS berungkali mengancam akan melakukan serangan terror ke Indonesia.

"Salim Mubarok Attamini sudah mengancam akan datang ke Indonesia untuk melakukan tindakan balas dendam. Demikian juga Santoso (buronan aparat keamanan Indonesia yang mengklaim pimpinan ISIS di Indonesia) beberapa waktu lalu sudah mengancam (akan melakukan serangan teror). Ini merupakan hal-hal yang harus kita waspada," kata Saud Usman.

Selain penegakan hukum, Indonesia lanjut Saud Usman, mengedepankan konsep deradikalisasi dalam menghadapi para militan simpatisan ISIS yang ada di Indonesia.

"Yaitu konsep deradikalisasi. Memenjarakan terorisme tidak selesai masalah. Itu pengalaman kita. Tapi bagaimana harus diikuti dengan bagaimana mengubahcara berpikir atau mind set nya. Pendekatan kultur budaya kita kedepankan juga," tambah Saud. [aw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG