Tautan-tautan Akses

Revolusi Digital Mentransformasi Buku Komik

  • Elizabeth Lee

Pengunjung Comic Con, Amanda Sankey, dari Los Angeles memainkan permainan Zombie Burbz dalam truk WowWee's AppGear. (Foto: AP)

Pengunjung Comic Con, Amanda Sankey, dari Los Angeles memainkan permainan Zombie Burbz dalam truk WowWee's AppGear. (Foto: AP)

Buku komik dengan format digital mendorong penjualan dan diharapkan bisa melahirkan generasi baru pembaca komik.

Dari Superman sampai Batman, banyak pahlawan Hollywood yang diangkat dari karakter komik.

Pencipta-pencipta buku komik mengatakan bahwa meski bukunya sendiri tidak sepopuler beberapa dekade lalu, komik mengalami revolusi teknologi sehingga banyak pihak di industri merasa komik akan membangkitkan generasi pembaca baru.

Selama 30 tahun terakhir, penerbit Golden Apple Comics di Los Angeles telah menjual buku komik untuk dewasa dan anak-anak seperti Evan Cray, 8.

“Saya senang memegang lembaran bukunya dan membacanya,” ujarnya.

Penampilan halaman-halaman komik tersebut tidak berubah banyak seiring berjalannya waktu, namun pemilik Golden Apple Ryan Liebowitz mengatakan bahwa sekarang ada sesuatu yang baru dalam bisnis buku komik.

“Pada satu tahun terakhir, kami melihat transisi besar menuju buku komik digital,” terangnya.

Konsep membaca buku komik dalam alat digital cukup menyebar di seluruh dunia. Comixology memiliki lebih dari 25.000 judul buku di toko daringnya, ujar Chip Mosher, wakil presiden direktur bidang pemasaran dan pengembangan bisnis perusahaan.

“Dalam enam sampai sembilan bulan terakhir, toko kami ada di deretan teratas aplikasi iPad di seluruh toko iTunes,” ujar Mosher.

Bisnis sedang meledak. Pembaca bisa mendapatkan versi digital komik dengan harga yang hampir sama dengan versi buku. Tahun lalu, penjualan perusahaan tersebut mencapai US$19 juta. Tahun ini, penjualan diperkirakan mencapai $70 juta.

Format baru ini membuat banyak pihak dalam industri bereksperimen dengan penampilan komik digital.

“Fokus dalam panel komik berubah untuk dapat menarik mata dari satu sisi ke sisi lain,” jelas Mark Waid yang mendirikan situs komik digital Thrillbent. Ia merancang hasil karyanya supaya muat di layar digital.

“Kebanyakan layar, baik televisi maupun laptop ada dalam format horizontal, atau lebih melebar. Jadi berhentilah memproduksi komik digital yang tidak dapat mengakomodasi format tersebut,” ujarnya.

Daniel Burwen, pendiri Cognito Comics, menampilkan suara dan gerak dalam karya fiksi mata-mata/sejarah berjudul Operation Ajax. Para pembaca bisa mendapatkan informasi sejarah tambahan di luar cerita jika mereka ingin belajar lebih banyak lagi.
Burwen mengatakan bahwa dunia maya memungkinkan karyanya dapat menyentuh pembaca di seluruh dunia.

“Kita sudah beruntung kalau bisa menjual komik versi cetak sebanyak 5.000 kopi,” ujarnya. “Saat ini kita memiliki distribusi internasional dan kemampuan untuk menyentuh pembaca yang sangat luas.”

Para pembuat komik digital mengatakan bahwa banyak di antara ‘pembaca yang luas’ tersebut mencari tema di luar kekerasan, yang sepertinya sedang tren di antara buku komik, dipicu oleh permainan video dan film.

“Anda bisa melihat di sampul depan buku-buku komik ini, karakter-karakternya tidak tampak bahagia,” ujar Liebowitz dari Golden Apple. “Mereka memiliki senjata dan melukai satu sama lain.”

Liebowitz mengatakan bahwa popularitas komik digital yang meningkat membantu bisnisnya. Ia menjualnya di laman toko, berikut dengan buku komik tradisional, dan pelanggan seperti Dan Cray membeli kedua format tersebut.

“Ada beberapa komik, misalnya yang menjadi favorit saya, yang saya lebih suka memiliki format bukunya,” ujar Cray. “Tapi banyak di antara komik-komik tersebut yang lebih nyaman dan enak dibaca di iPad.”

Banyak pihak dalam industri ini berharap format digital dapat menarik generasi baru pembaca komik, sehingga mendorong bisnis virtual dan riil.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG