Tautan-tautan Akses

Reuni Angkatan Pertama Peace Corps Indonesia


Sekelompok warga Amerika berkumpul di sebuah peristirahatan di Major Estate, Smoky Mountain, North Carolina. Para warga berusia lanjut itu merupakan relawan dari Peace Corps Indonesia, sebuah program sukarela yang terjalin antara Indonesia dan Amerika pada masa pemerintahan John F. Kennedy.

Lima puluh tiga tahun yang lalu, para orang tua ini adalah anak muda Amerika yang terpanggil oleh seruan presiden Kennedy untuk mengabdi kepada negara dengan menjadi relawan peace corps di Indonesia. Tugas utama mereka adalah menjadi pelatih olahraga di Indonesia untuk menghadapi Olimpiade musim panas di Jepang.

"Saya membuka klinik pelatihan atletik, melatih berenang dan bola basket," ujar Jordan Safine, yang kini tinggal di California dan ditempatkan di kota Padang pada masa baktinya.

Para sukarelawan ini berkumpul kembali setelah lama meninggalkan Indonesia untuk menyambung tali silaturahmi dan temu kangen bagi 17 relawan peace corps angkatan pertama di Indonesia. Hanya enam orang yang bisa hadir di acara temu kangen yang berlangsung selama dua hari ini.

"Sesekali saya bertemu, tapi saya belum bertemu sebagian besar mereka selama 50 tahun, karenanya menyambung kembali silaturahmi bagi saya dan 17 peserta peace corps ini sangat penting," sebut John Second, alumni Peace Corps di Indonesia untuk periode 1963-1965.

Reuni ini sudah menjadi keinginan lama bagi Norman Majors, salah satu alumni peace corps yang kini tengah terbaring di salah satu rumah sakit di Australia. Karena itu, kehadirannya diwakili oleh anaknya, Tim Majors yang memiliki tempat peristirahatan ini.

Dalam suasana santai, Bob Kagan, alumni relawan Peace Corps yang dulu ditempatkan di kota Semarang membuka temu kangen hari pertama yang bercerita tentang "kenangan abadi selama saya menjadi relawan Peace Corps". Selain itu, relawan lain, Paul Burghdorf, mengabadikan pengalamannya dalam buku memoar berjudul "Good Morning Mr. Paul".

"Good Morning Mr. Paul adalah memoar relawan muda peace corps yang tergugah oleh tantangan presiden JFK untuk mengabdi kepada negara dengan menjadi relawan di Indonesia tahun 1963-65. Idealismenya yang tinggi untuk mengabdi tidak tergoyahkan ketika menghadapi penolakan dan ancaman dari aktivis partai komunis yang menimbulkan kerusuhan politik dalam sejarah Indonesia," ujar Paul dengan bersemangat.

Vic Godfrey, seorang relawan yang ditempatkan di Surabaya juga menunjukkan memorabilia yang dia simpan di buku hariannya yang kusam. Selebaran ini ia terima dari aktivis partai Komunis saat ia mampir di kota Kediri, Jawa Timur.

Suasana politik Indonesia waktu itu memang sedang bergejolak. Partai Komunis Indonesia bersaing dengan kekuatan politik yang lain untuk memperkuat posisinya dan mengusung sentimen anti Amerika yang dianggap sebagai neagra Imperialis. Terlebih lagi dengan keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam.

Ketika suasana politik semakin memanas di tahun 1965, mereka meninggalkan Indonesia. Pada tahun itu juga program peace corps di Indonesia yang merupakan hasil kesepakatan presiden Soekarno dan presiden John F Kennedy dihentikan.

Waktu dua tahun di Indonesia hanyalah persinggahan sejenak dari perjalanan hidup mereka yang panjang, namun itu menjadi pengalaman yang tak pernah lekang dari ingatan dan mempengaruhi hidup mereka, tentu dengan kadar yang berbeda-beda.

"Saya menikmati pengalaman saya di Indonesia dan hidup saya tidak akan seperti sekarang kalau tidak jadi relawan di Indonesia. Apa yang saya dapatkan waktu di Indonesia lebih banyak daripada apa yang saya berikan," ujar Paul.

XS
SM
MD
LG