Tautan-tautan Akses

Respon Pasar Positif Terhadap Pilpres

  • Iris Gera

Hingga Kamis petang saat penutupan pasar, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 11.500 per dolar Amerika, menguat dibanding sebelumnya berada di posisi Rp 11.700 per dolar Amerika (Foto: ilustrasi).

Hingga Kamis petang saat penutupan pasar, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 11.500 per dolar Amerika, menguat dibanding sebelumnya berada di posisi Rp 11.700 per dolar Amerika (Foto: ilustrasi).

Anggota Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Silmy Karim mengatakan, pemilihan presiden yang berlangsung aman membuat investor merasa aman dan nyaman.

Sehari setelah Indonesia menyelenggarakan pemilihan presiden 2014, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dan Index Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada Kamis (10/7).

Hingga Kamis petang saat penutupan pasar, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 11.500 per dolar Amerika, menguat dibanding sebelumnya berada di posisi Rp 11.700 per dolar Amerika.

Sementara pada akhir perdagangan Kamis, IHSG ditutup naik sebesar 73 poin atau sekitar 1,46 persen ke level 5.098 dan tertinggi sepanjang 2014.

Kepada VOA di Jakarta anggota Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Silmy Karim, mengatakan ia tidak sependapat jika dinilai pasar merespon positif karena salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden hasil penghitungan cepat melainkan respon positif dikarenakan penyelenggaraan pilpres yang menurut investor berjalan sukses.

“Bahwasanya ada klaim-klaim karena hasil quick count ini positif terhadap salah satu kandidat menurut saya belum saatnyalah, apalagi kalau misalnya nanti hasilnya berbeda. Bahwasanya politik itu berpengaruh terhadap ekonomi, iya, tetapi kita juga harus ingat Indonesia dalam 15 tahun terakhir ekonomi cukup mandiri, hubungannya dengan politik tidak terlalu dekat, sebelum 1998 betul iya, tetapi setelah ’98 kesini kita belajar reformasi, penegakan hukum, HAM, sudah memperlihatkan hasilnya," ujarnya.

Silmy juga menanggapi keinginan para capres untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga diatas tujuh persen. Menurutnya keinginan tersebut masuk akal karena Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Namun ia mengingatkan pertumbuhan ekonomi tidak akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika tidak didistribusi secara merata.

“Menurut saya 7 persen bukan suatu hal yang sulit, kita punya potensi untuk itu, tetapi kan pertanyaan berikutnya bagaimana distribusinya, kalau 7 persen yang menikmati hanya segelintir itu yang tidak benar, kesenjangan antara si miskin dan sikaya itu semakin besar," ujarnya.

Sementara menurut ekonom dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Yanuar Rizky, respon positif pasar terhadap penyelenggaraan pilpres hanya sementara. Ke depannya nanti, ditegaskannya, butuh kedewasaan capres dan cawapres serta masyarakat dalam berpolitik. Ia mengingatkan jika situasi kondusif tidak dikelola dengan baik, maka respon pasar akan berbalik menjadi negatif.

“Kalaupun euforia kayak gini kan sifatnya hanya sekali-kali jadi kita harus melihatnya sesuatu yang jadi tradisi dipasar itu sendiri, nah artinya apa? kalau tidak ada rangkulan secara politik kan berat juga, bisa ribut-ribut, ramai-ramai terus, disitulah sebetulnya yang akan dituntut kedewasaan politik Indonesia, jadi artinya bahwa ini adalah ya pilpres, pilpres ada tahapannya kecuali nanti sudah 22 Juli, sudah ditetapkan, sudah apa masih ngotot, tidak mau terima," ujarnya.

XS
SM
MD
LG