Tautan-tautan Akses

Renovasi Gedung PBB Habiskan 2,1 Milyar Dolar Lebih


Tempat penyelenggaraan Sidang Majelis Umum di markas besar PBB di New York (foto: dok).

Tempat penyelenggaraan Sidang Majelis Umum di markas besar PBB di New York (foto: dok).

Mulai hari Senin 22 September 2014, sekitar 193 kepala negara secara bergantian akan menyampaikan pandangan mereka dalam sidang Majelis Umum PBB. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, markas PBB di New York kini tampil lebih elegan dan indah.

Ada yang lain dalam penyelenggaraan sidang Majelis Umum PBB ke-69 yang dibuka hari Senin 22 September. Gedung PBB dan fasilitas pendukung lain tampak lebih modern dan terstruktur berkat renovasi berkala selama tujuh tahun yang menelan biaya lebih dari 2,1 milyar dolar.

Kompleks markas PBB seluas 17 hektar itu selesai direnovasi, tepat satu minggu sebelum sidang majelis umum ke 69 digelar.

Renovasi bangunan utama tetap mempertahankan struktur bangunan bersejarah yang dibangun tahun 1950an, tetapi berbagai sudut bangunan, peralatan elektronik, sistem pemanas dan pendingin ruangan hingga sistem keamanan dan keselamatan diperbaiki.

Lambang PBB berupa peta bumi yang di bagian bawahnya dikelilingi dua daun zaitun dan selama puluhan tahun berada di belakang podium utama ruang sidang, kini diganti. Lambang PBB yang warnanya sudah memudar, diganti dengan yang baru – berwarna keemasan menyala.

Karpet ruang sidang yang berwarna hijau kecoklatan dan beberapa bagiannya bernoda, kini juga diganti baru. Beberapa bagian kursi dan meja juga diganti dengan yang lebih bisa diakses oleh peserta sidang yang menggunakan kursi roda.

Ruangan yang disediakan bagi awak media dalam Sidang Umum PBB (foto: VOA/Eva Mazrieva).

Ruangan yang disediakan bagi awak media dalam Sidang Umum PBB (foto: VOA/Eva Mazrieva).

Michael Adlerstein – kepala Capital Master Plan – yang merenovasi markas PBB ini mengatakan kepada media-media lokal, meski proyek renovasi bernilai 2,1 milyar dolar ini memberi sentuhan baru dan modern, tetapi ada beberapa bagian dan tradisi yang tetap dipertahankan.

Misalnya sistem audio yang tetap mempertahankan “one ear peace system” dan bukan “two ear peace system”, sehingga pada satu telinga – delegasi tetap bisa mendengar suara pembicara yang sedang berkesempatan menyampaikan pandangannya, sementara di telinga lainnya – delegasi bisa mendengar terjemahan bahasa yang dikehendakinya.

Menurut beberapa anggota delegasi yang ditemui, merupakan suatu tradisi untuk bisa tetap mendengar suara, tekanan nada dan aksentuasi pembicara di satu telinga, sementara telinga lainnya mendengar terjemahan bahasa asal negara delegasi yang bersangkutan.

Seiring bertambahnya jumlah anggota PBB, ruang delegasi di markas ini pun ditambah, dari 193 ruang menjadi 204 ruang.

Selain renovasi dan persiapan berskala besar, hal-hal kecil tapi penting pun ikut menjadi perhatian. Misalnya susunan bendera setiap negara anggota PBB, baik yang ada di bagian luar gedung maupun di dalam ruang sidang. Juga susunan menu makanan delegasi sehingga bisa dinikmati bersama tanpa ada yang merasa tersinggung, secara agama maupun budaya.

Selain 193 delegasi negara anggota PBB, sidang Majelis Umum PBB ke-69 kali ini juga diikuti oleh sekitar 4.000 delegasi dari 900 LSM yang berasal dari lebih 110 negara. Juga sekitar 2.000 wartawan dari berbagai media dunia.

Beberapa isu besar yang tampaknya akan menjadi perhatian utama ke-193 delegasi anggota PBB antara lain krisis Ebola di Afrika Barat yang sudah menewaskan lebih dari 2.600 orang dan menjangkiti lebih dari 5.500 orang. Juga konflik berkelanjutan di Suriah, Irak, Ukraina dan Sudan Selatan, dan yang terbaru seperti kebangkitan kelompok militan ISIS. Isu-isu lama tampaknya juga masih akan disorot, antara lain soal perubahan iklim dan krisis pangan serta kemiskinan di beberapa bagian dunia.

Secara khusus Presiden Amerika Barack Obama akan memimpin KTT Dewan Keamanan pada 24 September, untuk merancang sikap dan tindakan terhadap berkembangnya fenomena teroris asing. Sementara Sekjen PBB Ban Ki-Moon pada 25 September juga akan mengadakan pertemuan besar untuk menodorong upaya internasional mengatasi krisis Ebola di Afrika Barat.

XS
SM
MD
LG