Tautan-tautan Akses

Rencana Pengajaran dalam Bahasa Inggris Undang Protes di Perancis


Para siswa yang baru lulus sekolah menengah mengikuti ujian masuk universitas di Strasbourg, Perancis. (Reuters/Vincent Kessler)

Para siswa yang baru lulus sekolah menengah mengikuti ujian masuk universitas di Strasbourg, Perancis. (Reuters/Vincent Kessler)

Rencana pengajaran dalam bahasa Inggris di universitas-universitas Perancis mengundang protes karena dianggap mengkhianati budaya Perancis.

Para pembela Bahasa Perancis berang atas rencana meluncurkan kelas-kelas berbahasa Inggris di universitas-universitas negeri, dengan alasan bahwa negara itu harus melindungi diri dari pengikisan bahasa atau berisiko kehilangan identitas budaya.

Parlemen mulai mendebatkan isu tersebut Selasa (21/5) sebagai bagian rancangan undang-undang untuk reformasi pendidikan tinggi yang lebih luas. Namun semua perhatian malah terpusat pada sebuah ayat yang akan menghapuskan larangan 19 tahun mengenai pengajaran dalam bahasa Inggris di universitas-universitas negeri.

Pemerintahan Presiden Francois Hollande yang beraliran sosialis mengatakan mereka akan membantu menarik mahasiswa asing dan membantu lulusan Perancis bersaing dalam ekonomi global seiring kesulitan negara itu untuk menambah daya saing.

Semakin banyak mahasiswa Perancis yang khawatir dengan prospek lapangan pekerjaan di negaranya, dengan tingkat pengangguran di kalangan anak muda hampir 25 persen, memilih belajar dan bekerja di luar negeri, terutama London, yang memiliki populasi orang Perancis keenam terbesar di dunia.

Namun, pihak oposisi undang-undang tersebut, yang termasuk profesor, anggota legislatif dan akademi pengawas bahasa Academie Francaise, mengatakan pemakai Bahasa Perancis harus membela bahasa itu dan perubahan tersebut akan berarti pengkhianatan terhadap bangsa-bangsa pemakai Bahasa Perancis.

Perancis telah lama membela budayanya di dalam dan di luar negeri, seperti yang baru-baru ini terjadi dalam debat kontrak perdagangan antara Eropa dan Amerika Serikat. Saat itu Hollande mengatakan mereka harus menghormati tradisi Perancis yang mensubsidi segalanya dari seni sampai film.

Pada 1994, semua siaran televisi diwajibkan menggunakan Bahasa Perancis, sehingga acara-acara dalam bahasa asing harus disulihsuarakan. Sementara itu, semua stasiun radio harus memainkan sedikitnya 40 persen musik Perancis.

Untuk mempromosikan sudut pandang Perancis, mantan presiden Jacques Chirac meluncurkan jaringan berita internasional France24, yang sekarang menayangkan saluran-saluran 24 jam dalam Bahasa Perancis, Inggris dan Arab. Sementara itu, Hollande membentuk kementerian urusan Bahasa Perancis.

Pihak pengusaha mengeluhkan rendahnya kelancaran berbahasa Inggris orang Perancis, yang menempatkan mereka dalam posisi 23 dalam pemeringkatan global oleh perusahaan pendidikan Education First – meski penggunaan Bahasa Inggris telah tumbuh, terutama di kalangan akademis.

Menteri Pendidikan Tinggi Genevieve Fioraso mengatakan bahwa penawaran kelas-kelas berbahasa Inggris akan menaikkan daya tarik universitas-universitas Perancis dis aat mereka jatuh dalam peringkat internasional.

Pada sebuah survei 2011-2012 oleh surat kabar Inggris, Times, universitas teratas di Perancis ada di posisi 59 di dunia. Sekolah-sekolah bisnis swasta dengan pengajaran Bahasa Inggris memiliki peringkat lebih tinggi. (Reuters/Nicholas Vinocur)
XS
SM
MD
LG