Tautan-tautan Akses

Rencana Industri China 2025 Timbulkan Keprihatinan


Joerg Wuttke, Ketua Kamar Dagang Eropa di China (foto: dok).

China sedang berusaha menerapkan rencana ambisius "Made in China, 2025" untuk meningkatkan teknologi dan kualitas produknya, serta dalam upaya mengatasi polusi yang semakin parah dan ekspor yang menurun.

China berusaha memperoleh teknologi terbaik dari dunia Barat di bidang-bidang seperti Teknologi Informasi, semi konduktor, robotik, kendaraan energi baru dan peralatan medis.

Para pemimpin China sudah kesal dengan citra China sebagai "pabrik untuk dunia" dan penghasil barang-barang bermutu rendah. Mereka ingin industri China meningkatkan mutu lewat penyempurnaan kemampuan mereka dalam bidang rekayasa, desain, dan pemasaran pada tahun 2025.

Namun, cara-cara yang dipakai oleh China menimbulkan keprihatinan. Beijing mendesak bisnis China untuk meraih teknologi lewat membeli perusahaan asing. China juga menekan bisnis asing yang berbasis di China untuk mengalihkan teknologi mereka dan sebagai imbalan mereka diberi akses ke pasar China.

"Bisnis Eropa menghadapi tekanan kuat untuk mengalihkan teknologi canggih mereka dan sebagai imbalannya mereka diberi akses ke pasar," kata Joerg Wuttke, Ketua Kamar Dagang Eropa di China, hari Selasa (7/3).

Pemerintah China memberi subsidi kepada beberapa sektor seperti robotik, sehingga terjadi kapasitas yang berlebihan, dan selanjutnya menimbulkan masalah pemasaran baik untuk bisnis China maupun asing, demikian Joerg Wuttke.

Rencana tahun 2025 ini sedemikian pentingnya sehingga Perdana Menteri Li Keqiang melaporkan kemajuan yang dicapai dalam Laporan Kerja tahunannya kepada Kongres Rakyat Nasional atau Parlemen China, pekan lalu. [sp]

XS
SM
MD
LG