Tautan-tautan Akses

Reformasi Masih Jauh dari Bumi Aljazair

  • Lisa Bryant

Demonstran anti-pemerintah sempat berunjukrasa di ibukota, Algiers, bulan Februari lalu.

Demonstran anti-pemerintah sempat berunjukrasa di ibukota, Algiers, bulan Februari lalu.

Aljazair bergolak dengan topik yang sama, perpaduan dari ketidakpuasan ekonomis dan politis yang telah menuai pemberontakan di seantero negara Arab. Tetapi itu tidak terjadi di Aljazair, dimana usaha menggalang demonstrasi tersebut tidak berhasil.

Cerita lain mengenai upaya menggalang demonstrasi anti pemerintah, yang ini dari depan sebuah kantor pos di kota Algiers. Sebuah halaman di Facebook mengumumkan akan ada rapat umum yang diikuti ribuan pemuda. Hanya puluhan pemuda yang benar-benar hadir, yang segera dibubarkan polisi anti huru-hara yang berjumlah jauh lebih banyak.

Nalia Hamish yang berusia 31 tahun mengungkapkan rasa kecewanya.Hamish mengatakan setiap kali demonstran mencoba untuk berkumpul, polisi membubarkan mereka. Para demonstran ingin adanya kebebasan berpolitik yang dimulai dengan kebebasan melakukan protes.

Ada juga kemarahan, terhadap pemerintah Aljazair yang otoriter disebabkan kurangnya lapangan kerja dan dugaan korupsi dalam pemerintahan. Kondisi itu membuat Tariq, seorang pekerja pemasaran berusia 30 tahun ikut dalam demonstrasi yang digalang lewat Facebook tersebut.

Tariq mengatakan para demonstran menginginkan agar korupsi, penindasan dan pencurian oleh negara harus diakhiri. Mereka menuntut kesejahteraan yang lebih adil di negara yang kaya minyak tersebut. Dan, pemerintah harus memenuhi tuntutan para pemuda yang merupakan bagian terbesar dari seluruh penduduk.

Polisi anti-huru-hara Aljazair menahan seorang demonstran di Oued Koriche, Algiers, Kamis (23/4).

Polisi anti-huru-hara Aljazair menahan seorang demonstran di Oued Koriche, Algiers, Kamis (23/4).

Tapi, sedikit sekali orang hadir dalam demonstrasi mingguan yang diatur oleh kelompok baru yang disebut sebagai Koordinasi Nasional Untuk Demokrasi dan Perubahan, jumlah polisi lebih banyak dibanding demonstran yang hadir.

Said Saadi, kepala partai oposisi RCD, adalah bagian dari gerakan ini. Saadi percaya demonstrasi-demonstrasi yang terpisah itu akhirnya akan menyatu menjadi gerakan yang kuat yang dapat menciptakan perubahan politik secara damai atau meletus menjadi pemberontakan.

Ghania Lassal adalah wartawan dari harian El Watan yang terkemuka. Lassal percaya bahwa rakyat menginginkan perubahan dan demokrasi, tetapi belum siap memberikan waktu dan usaha dan bahkan darah mereka jika diperlukan, untuk memperjuangkannya.

Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika telah menjanjikan reformasi. Di bulan Februari, ia mencabut UU darurat yang telah berlangsung selama 19 tahun. Tetapi, larangan berdemonstrasi di Algiers tetap berlaku.

Dalam sebuah wawancara, Menteri Komunikasi Nacer Maher menjelaskan upaya-upaya utama pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur dengan membangun perumahan dan membuka lapangan kerja. Mahel mengatakan masih banyak lagi yang harus dilakukan di berbagai sektor. Lebih lanjut ia mengatakan penting sekali mendengarkan tuntutan pemuda. Tetapi, ia juga mengatakan Aljazair menikmati sejumlah kebebasan termasuk media yang bergairah.

Lassal yang seorang wartawan yakin, pemerintah merasa kuatir. Aljazair memang bukan Tunisia atau Mesir tetapi pemerintah negara ini paham ketidakpuasan atas situasi sekarang bisa meledak menjadi suatu yang lebih besar.

XS
SM
MD
LG