Tautan-tautan Akses

Rawan Terorisme,14 Provinsi Dibawah Penjagaan

  • Fathiyah Wardah

Dalam foto tertanggal 17/10/2002 ini polisi Indonesia dan tim forensik Australia melakukan pemeriksaan di lokasi ledakan di Kuta, Bali , setelah terjadi serangan bom pada 12/10/2002.

Dalam foto tertanggal 17/10/2002 ini polisi Indonesia dan tim forensik Australia melakukan pemeriksaan di lokasi ledakan di Kuta, Bali , setelah terjadi serangan bom pada 12/10/2002.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyatakan 14 provinsi saat ini mendapatkan penjagaan ketat dari aparat keamanan termasuk Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Tim Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto mengatakan 14 provinsi saat ini mendapatkan penjagaan ketat dari aparat keamanan termasuk Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Ke-14 provinsi tersebut lanjut Wawan telah menjadi tempat perpindahan pelaku terorisme.

Dia mencontohkan pelaku tindak pidana terorisme kerap kali menjadikan Poso sebagai tempat persembunyian tetapi karena penjagaan dan penyisiran yang begitu terus menerus maka mereka mulai berpindah ke daerah-daerah lain seperti Bima, Nusa Tenggara Barat, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan, Aceh, Palembang, Lampung, dan beberapa daerah lainnya.

Menurut Wawan, larinya para pelaku tindak pidana terorisme sudah bisa dilacak dan terus dikejar oleh aparat. Menjelang perayaan Natal dan tahun baru lanjutnya penjagaan-penjagaan di daerah-daerah itu akan semakin ditingkatkan. Gereja-gereja pun tambahnya akan juga mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang ketat.

“Untuk antisipasi di wilayah-wilayah tersebut sangat dijaga ketat karena pelindungan publik penting sekali. Ancaman pasti ada, upaya-upaya menyerang juga ada makanya terus diburu pelaku-pelaku yang terus begerak itu,” kata Wawan Purwanto.

Wawan menambahkani aksi penyanderaan seperti yang terjadi di Kafe Lindt, Sydney, Australia kemungkinan bisa terjadi di Indonesia tetapi potensinya sangat kecil.

Aparat tambah Wawan terus memanfaatkan jaringan yang ada seperti dari mereka (pelaku teroris) yang sudah keluar penjara ataupun yang masih berada di dalam penjara untuk mencari informasi.

Pencegahan berkembangnya faham radikal kata Wawan juga terus dilakukan

“Pencegahan terus dilakukan, pendekatan terhadap pemuka-pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat rUpaya pengaman wilayah pembelajaan, agama, tempat hiburan, ibadah terus dilakukan,” lanjut Wawan.

Sementara itu Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Komisaris Besar Agus Rianto menjelaskan ada 145 ribu aparat yang dipersiapkan untuk menjaga perayaan Natal dan tahun baru. Jumlah itu merupakan gabungan antara TNI dan Polri.

Agus mengungkapkan kejadian penyanderaan di Sidney, Australia akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam melakukan penjagaan.

“Itukan merupakan salah satu bagian dari kegiatan kita dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat termasuk saudara-saudara kita yang merayakan Natal,” kata Agus Riyanto.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG