Tautan-tautan Akses

Ratusan Warga Unjuk Rasa saat Pemakaman Thatcher

  • Selah Hennessy

Para penentang kebijakan Margaret Thatcher semasa menjadi PM membawa tulisan 'Rest in Shame' atau Istirahat dalam Kehinaan dalam upacara pemakaman Thatcher di London (17/4).

Para penentang kebijakan Margaret Thatcher semasa menjadi PM membawa tulisan 'Rest in Shame' atau Istirahat dalam Kehinaan dalam upacara pemakaman Thatcher di London (17/4).

Di antara puluhan ribu orang memenuhi ruas-ruas jalan di London hari Rabu (17/4), untuk menyaksikan pemakaman mantan PM Inggris Margaret Thatcher, ratusan warga melakukan unjuk rasa.

Bersama-sama dengan massa yang berkabung, ratusan pengunjuk rasa gembira dengan kematian 'Iron Lady' Margaret Thatcher yang dinilai sebagai salah seorang politisi yang paling memecah belah di Inggris.

Lawan-lawan Thatcher berjajar di pinggir jalan ketika prosesi pemakaman hendak menuju ke Katedral. Mereka justru membelakangi keranda Thatcher ketika prosesi melintas.

Para demonstran itu meneriakkan "membuang-buang uang," sebagai protes atas biaya jutaan dolar untuk pemakaman hari Rabu itu, dan membawa poster yang menyesalkan kebijakan politik Thatcher.

Semasa berkuasa, Thatcher menjadi musuh bagi banyak pihak kiri. Perdana menteri yang Konservatif itu mengupayakan privatisasi dan deregulasi, memotong pajak kalangan kaya dan menghantam serikat buruh.

Hari Rabu, para penentangnya mengatakan mereka tidak memaafkan Thatcher.
"Ini adalah tanda bahwa kami tidak ingin terlibat dalam arak-arakan dan perayaan atas pencapaiannya semasa hidup - karena menurut saya ia tidak layak diperingati," ujar seorang perempuan Inggris.

Seorang pria menambahkan, "Saya sangat senang hari ini karena dia sudah tiada."

Seorang lainnya mengatakan, "Orang-orang, terutama di bagian Inggris utara, sangat, sangat kecewa karena mereka tidak punya cara untuk membalas perempuan ini dan ini adalah satu-satunya inilah yang bisa kami lakukan. Semoga protes ini bisa mengakhiri semua itu dan kami bisa terus ke depan dengan kehidupan kami."

Hari Rabu (17/4), bukanlah protes pertama sejak kematian Thatcher awal bulan ini. Sebelumnya, hari Sabtu (13/4), para penentangnya memadati Lapangan Trafalgar di London untuk "merayakan" meninggalnya Tatcher.

Mereka mengatakan mereka memprotes kebijakan politik dan warisan yang ditinggalkannya - meningkatkan ketidak-setaraan dan tingginya biaya hidup di Inggris.

Banyak warga Inggris mengecam mereka yang ikut "merayakan," tetapi para penentang Thatcher mengatakan ini merupakan kesempatan baik untuk mengatasi perpecahan dalam masyarakat Inggris.

Hari Rabu, seorang demonstran membagi-bagikan selebaran yang mendorong perdebatan tentang peninggalan Thatcher.

"Inggris masih merupakan masyarakat yang sangat terpecah. Dia mungkin salah satu perdana menteri yang paling kontroversial. Jadi, mudah-mudahan, dengan menyelenggarakan protes ini dan dengan mengangkat isu itu dan menunjukkan bahwa ada alternatif, orang-orang akan mulai menangani warisannya," ujarnya.

Kematian Thatcher, ia berharap, akan memicu perdebatan baru tentang masa depan Inggris.
XS
SM
MD
LG