Tautan-tautan Akses

Ratusan Warga Surabaya Adakan Perayaan Tahun Baru Jawa

  • Petrus Riski

Warga Surabaya mengarak Tumpeng dari Tugu Pahlawan ke Kampung Ilmu pada acara Gereget Suro (26/11).

Warga Surabaya mengarak Tumpeng dari Tugu Pahlawan ke Kampung Ilmu pada acara Gereget Suro (26/11).

Di Surabaya perayaan tahun baru Jawa dikemas dalam Gereget Suro, yang melibatkan kelompok penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Peringatan tahun baru Jawa atau Satu Suro merupakan penanda pergantian tahun menurut penanggalan Jawa. Pada 2011 ini tahun Jawa telah berumur 1945 tahun, yang penetapannya dilakukan pada jaman Kerajaan Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan Agung, menggantikan penanggalan Hindu yaitu tahun Saka.

Tahun baru Jawa diperingati dengan berbagai acara pawai budaya, hingga persembahan segala macam hasil bumi dan buah-buahan yang sarat dengan makna simbol. Intinya, peringatan Satu Suro merupakan ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta bentuk harmoni anatara manusia dengan alam.

Payung Agung, Keris dan Tombak Pusaka, serta serangkaian sesaji berupa hasil bumi dan buah-buahan diarak dari Tugu Pahlawan menuju Kampung Ilmu di kawasan jalan Semarang, Surabaya. Kirab Gereget Suro menandai dimulainya serangkaian perayaan Tahun Baru Jawa yang sering disebut Satu Suro, yang diikuti ratusan orang penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pemimpin Kirab Gereget Suro, Mashuri mengatakan, peringatan Satu Suro merupakan permenungan manusia sejak awal kehidupan dijadikan, serta sarana bersyukur atas berkat dan perlindungan Tuhan.

Mashuri menjelaskan, “Kita bangga Indonesia ini, oleh Tuhan Yang Maha Esa diberi sebuah negara yang begitu indah, permai, subur kan sarwo tinandur, murah kan sarwo tinurah. Sehingga memungkinkan bangsa kita ini akan tercukupi sumber daya alam untuk menuju kepada masyarakat adil dan makmur. Tanda itu hasil ulutuning bumi itu dibeber dalam ubo rampe.”

Perayaan Tahun Baru Jawa atau Satu Suro di Kampung Ilmu mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat sekitar, karena pawai dan pagelaran budaya yang mengikuti menjadi jawaban atas kerinduan masyarakat pada kembalinya budaya bangsa yang bernilai tinggi.
Pemotongan Tumpeng usai didoakan pada acara peringatan Gereget Suro (26/11).

Pemotongan Tumpeng usai didoakan pada acara peringatan Gereget Suro (26/11).

Warga Surabaya penggemar kesenian, Asih Suwito mengatakan, digelarnya perayaan kebudayaan Satu Suro diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali budaya bangsa, serta sarana membersihkan diri menjadi lebih baik.

Asih Suwito mengatakan, “Kalau Suro, itu memang bulan-bulan penuh sakral, ya bulan sakral. Kita bisa membersihkan hati. Kalau orang yang punya gaman (senjata tradisional), pusaka ya, istilahnya mengasah pusaka. Lha pusaka itu kalau buat saya bukan hanya gaman, bukan hanya yang berupa keris dan sebagainya. Tapi hati ini juga barang.”

Kampung Ilmu yang merupakan tempat berkumpulnya pedagang buku bekas di Surabaya, menjadi tempat penyelenggaraan acara Gereget Suro, memperingati Tahun Baru Jawa. Beberapa diantaranya merupakan kelompok penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta kelompok lintas agama yang menaruh perhatian pada pelestarian budaya bangsa.

Koordinator Kampung Ilmu Surabaya, Budi Santoso menjelaskan, kebudayaan sebagai salah satu pilar bangsa harus dijaga dan dilestarikan, agar tidak tergeser oleh budaya asing. Salah satu upaya melestarikan budaya bangsa, yaitu melalui perayaan Satu Suro.

“Kita ini kan diingatkan untuk selalu mengingat akan kebudayaan kita. Melestarikan kebudayaan adalah menjadi tanggungjawab kita semua dalam menjadikan suatu kebudayaan sebagai pilar bangsa juga, sebagai jati diri bnagsa. Sehingga kita sebagai anak bangsa tidak serta merta justru mengadopsi apa yang menjadi kebudayaan-kebudayaan luar,” demikian penuturan Budi Santoso.

XS
SM
MD
LG