Tautan-tautan Akses

Ratusan Migran Kembali Berupaya Masuki Eurotunnel


Migran menunggu di sekitar wilayah Eurotunnel untuk menuju Channel Tunnel, di Calais, Perancis utara (29/7).

Migran menunggu di sekitar wilayah Eurotunnel untuk menuju Channel Tunnel, di Calais, Perancis utara (29/7).

Ratusan migran kembali mencoba memasuki terminal Eurotunnel di Calais, Perancis, dalam upaya mereka yang kalap untuk masuk ke Inggris dari benua Eropa.

Jumlah migran yang berusaha masuk ke terowongan "Eurotunnel" berkurang dibanding pada awal pekan ini. Hari Senin (27/7) malam, 2.000 orang mencoba menerobos terowongan kereta bawah laut itu, dan hari Selasa malam 1.500 migran berusaha melakukan hal yang sama.

Setidaknya satu orang tewas Rabu (29/7) pagi karena ditabrak truk sehingga jumlah yang tewas ketika berusaha menyeberang dari Calais, kota pelabuhan di Perancis utara, untuk masuk ke Inggris sejak awal Juni menjadi sembilan.

Pihak berwenang Perancis mengerahkan lebih dari 100 polisi anti-huruhara Rabu malam untuk menambah personel keamanan. Ratusan migran telah mencoba bermalam-malam menerobos terowongan kereta api menuju Inggris itu.

Eurotunnel, perusahaan yang mengoperasikan terowongan yang menghubungkan Perancis dan Inggris, mengatakan telah memblokir lebih 37 ribu migran yang mencoba menyeberang secara ilegal dari benua Eropa ke Inggris sejak awal tahun. Eurotunnel mengumumkan jumlah total itu hari Rabu, dengan mengatakan Perancis dan Inggris harus berbuat lebih banyak untuk membantu Eurotunnel mengatasi peningkatan jumlah pendatang yang membanjiri wilayah itu.

Sebanyak 10 ribu migran dari Afrika, Timur Tengah dan negara-negara lain tinggal di perkemahan kumuh di dan sekitar Calais, kota berpenduduk 70 ribu orang. Menurut pengamat, mereka semakin mendesak masuk terowongan bawah laut sepanjang 50 kilometer itu dalam beberapa pekan terakhir setelah pemerintah meningkatkan keamanan pelabuhan guna memblokir migran yang menjadi penumpang gelap dalam kapal menuju Inggris.

Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang sedang berada di Singapura, mengatakan Inggris sudah melakukan segalanya, bekerja sama dengan Perancis, guna mencegah gangguan terhadap terowongan Eurotunnel. Tetapi masalah itu memperburuk hubungan kedua negara, masing-masing saling menyalahkan karena tidak bisa mengatasi krisis. Walikota Calais, Natacha Bouchart, mengeluhkan biaya tambahan keamanan dan menuntut pembahasan masalah ini dengan pejabat Inggris.

Konfrontasi terbesar yang terjadi pada hari Senin itu, menyebabkan banyak terjadi penundaan dalam pelayanan Eurotunnel pada hari Selasa.

Menteri Dalam Negeri Perancis Bernard Cazeneuve hari Selasa (28/7) mengatakan kepada kantor berita Perancis bahwa polisi melakukan beberapa penangkapan, tetapi ia tidak merinci lebih lanjut. Sementara, Menteri Dalam Negeri Inggris, Theresa May mengatakan pemerintah Inggris akan memberikan dana tambahan sebesar $10,8 juta untuk membantu Perancis mengamankan Eurotunnel dengan pagar baru.

Perdana Menteri Inggris David Cameron telah menolak usulan para pemimpin Eropa yang mendesak Inggris untuk menerima sejumlah migran yang telah melintasi Laut Tengah untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Atas desakan Jerman, Italia, dan negara-negara lain dalam KTT Uni Eropa agar Inggris menampung lebih banyak migran Afrika dan Timur Tengah yang membanjiri Eropa, PM Cameron mengajukan permohonan bagi sebuah prosedur dari Uni Eropa untuk memblokir tuntutan itu. Para pemimpin Eropa lainnya akhirnya setuju untuk memukimkan kembali 60.000 pengungsi secara sukarela.

Surat kabar Guardian di Inggris mengatakan sebanyak 150 migran tiba di Calais setiap hari, memicu peringatan bahwa sekitar 10.000 migran diperkirakan akan mencoba memasuki Inggris pada akhir Agustus.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG