Tautan-tautan Akses

Ramadan, Perkokoh Jembatan Antar Komunitas

  • Utami Hussin

Acara buka puasa bersama di rumah kediaman Duta Besar Indonesia di Amerika, Wisma Indonesia, Washington DC, 12 Juli 2013 (Foto: dok).

Acara buka puasa bersama di rumah kediaman Duta Besar Indonesia di Amerika, Wisma Indonesia, Washington DC, 12 Juli 2013 (Foto: dok).

Suasana Ramadan di Amerika sangat berbeda dengan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Tidak ada toko-toko tutup, restoranpun buka sepanjang hari.

Imam Mohammad Bashar Arafat dari Pusat Komunitas Muslim di Baltimore, Maryland, mengingatkan bahwa yang terpenting dalam bulan suci ini adalah Ramadan merupakan bulan di mana komunitas dapat berkumpul.

"Muslim yang berasal dari berbagai penjuru dunia berkumpul di masjid-masjid. Tak peduli apakah mereka Sunni, Syiah, atau dari berbagai aliran lainnya, kita semua berkumpul," kata Imam Arafat.

Imam Arafat juga mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan untuk bertemu dengan lebih banyak orang dari berbagai kalangan. "Ini bulan bagi kita untuk mengundang para tetangga, teman sejawat, teman-teman non-Muslim, agar datang dan ikut menyantap makanan berbuka. Inilah yang membuat kami bangga sebagai Muslim di Amerika," tambahnya.

Sebelum Ramadan tiba, Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), organisasi advokasi Muslim yang berpusat di Washington DC, telah meminta komunitas Muslim di seantero Amerika agar meningkatkan hubungan antar agama. Cara yang dianjurkan CAIR adalah dengan mengundang orang-orang dari berbagai agama dan latar belakang untuk berbuka bersama.


Ibrahim Hooper, Direktur Komunikasi CAIR, dalam pernyataannya mengutip sabda Nabi Muhammad bahwa Ramadan adalah bulan berbagi dengan orang lain. Ia menambahkan, berbagai riset yang dilakukan CAIR menunjukkan, prasangka serta stereotip tentang Islam dan umatnya berkurang sewaktu orang-orang yang beragama lain tahu lebih banyak mengenai Islam dan berinteraksi dengan warga Muslim biasa.

CAIR juga memprakarsai acara tahunan "Celebrate Ramadan with Your Muslim Neighbor" untuk mendorong komunitas Muslim setempat mengadakan acara berbuka bersama dengan tetangga mereka yang berasal dari berbagai latar belakang. Pekan ini, misalnya, CAIR cabang Columbus, Ohio, siap menjamu sekitar 250 orang non-Muslim. Jurubicara organisasi itu, Hannah Tyler mengatakan, ini adalah tahun ke-16 mereka mensponsori acara tersebut di sana.

Sementara itu, Koalisi Organisasi Muslim Florida Selatan, telah menyelenggarakan acara tahunan ke-empat berbuka bersama komunitas. Sejumlah pemuka agama non-Islam, warga sekitar, tokoh masyarakat dan politisi tampak berbaur bersama umat Islam dalam acara berbuka di Masjid an-Noor, di West Kendall, Florida bagian selatan.
Menurut salah seorang tamu, anggota DPR Amerika Joe Garcia, acara tersebut menegaskan kuatnya toleransi antarumat beragama di Amerika.

Imam masjid tersebut, Zakaria Badat menyatakan pihaknya ingin para tamu memahami bahwa meskipun mereka memiliki keyakinan dan cara beribadah yang berbeda, mereka semua tinggal di negara yang sama. Melalui acara Ramadan ini, para tamu dapat melihat-lihat masjid, mengetahui kegiatan di dalamnya, dan berinteraksi dengan Muslim.

Imam Arafat dari Baltimore kembali mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan ketika kitab suci Quran mulai diturunkan sebagai pedoman bagi umat manusia, bukan hanya untuk umat Islam.

"Jadi waktu kami mengundang orang-orang, baik para Ahli Kitab - umat Nasrani dan Yahudi - atau yang lainnya, untuk bersama-sama menikmati makanan dan memperkuat hubungan kemanusiaan, ini karena kita semua adalah keturunan nabi Adam dan Hawa," jelas Imam Arafat.
XS
SM
MD
LG