Tautan-tautan Akses

Rakyat Austria Beri Suara dalam Pilpres yang Memecah Belah


Para kandidat presiden Austria, Alexander Van der Bellen (kiri), yang maju sebagai calon independen, dan Norbert Hofer, dari sayap ultra kanan, sebelum debat televisi di Wina (1/12). (Reuters/Leonhard Foeger)

Sebuah kepala berita surat kabar menyebutnya sebagai “Pemilu Kebencian,” mencerminkan rasa frustrasi terpendam di kalangan para pendukung sayap kanan.

Rakyat Austria bersiap-siap mendatangi tempat-tempat pemungutan suara hari Minggu (4/12) dalam pemilihan umum yang mungkin akan membuat salah satu negara Eropa dengan demokrasi paling stabil itu, memilih presiden sayap kanan pertamanya sejak Perang Dunia II.

Pemilu hari Minggu itu adalah putaran yang kedua setelah hasil dari putaran pertama pada bulan Juni dibatalkan karena terdapat penyimpangan.

Para pengamat mengatakan persaingan antara kandidat sayap kanan Norbert Hofer dari Partai Kebebasan yang anti-Islamis, dan lawannya Alexander Van Der Bellen dari Partai Hijau, terlalu ketat untuk diprediksi beberapa jam sebelum dimulainya pemungutan suara. Sebagian TPS menunjukkan Hofer, seorang mantan insinyur aeronautika, sedikit unggul.

Para pemilih kebanyakan digerakkan oleh sentimen antikemapanan dan kemarahan terkait isu-isu imigrasi, beban finansial yang ditimbulkan pengungsi dan migran yang mendapat tunjangan dari sistem kesejahteraan Austria, dan gelombang serangan teroris di Eropa pada tahun lalu setelah dimulainya krisis migran.

Kampanye berlangsung lama dan tegang.

Sebuah kepala berita surat kabar hari Sabtu menyebutnya sebagai "Pemilu Kebencian," mencerminkan rasa frustrasi terpendam di kalangan para pendukung sayap kanan.

Istilah itu juga mencerminkan kekhawatiran dan kepahitan di kalangan pendukung sayap kiri yang mengecap Hofer seorang Nazi karena sikapnya yang anti-imigran. Eropa sedang dilanda krisis migran di mana lebih dari sejuta pengungsi dan migran memasuki Eropa tahun lalu, banyak diantaranya lewat Austria.

Pemilu hari Minggu itu merupakan putaran ulang dari pemilu yang diadakan bulan Juni yang menunjukkan Van Der Bellen unggul 31.000 suara. Pengadilan konstitusi Austria membatalkan hasilnya setelah menemukan sejumlah penyimpangan dalam penghitungan suara. [vm/uh]

XS
SM
MD
LG