Tautan-tautan Akses

Radio Lokal Andalkan Nuansa Kedaerahan untuk Hadapi Persaingan

  • Nurhadi Sucahyo

Peralatan di sebuah stasiun radio. (Foto: Dok)

Peralatan di sebuah stasiun radio. (Foto: Dok)

Untuk melawan jaringan radio besar dari Jakarta, radio lokal di Yogyakarta mengandalkan acara bernuansa kedaerahan dan aktivitas off air.

Dengan luas wilayah 3.142 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 3,5 juta jiwa, di Yogyakarta kini terdapat 38 radio swasta siaran dan tiga saluran untuk RRI. Perbandingan jumlah radio, luas wilayah dan jumlah penduduk tersebut membuat persaingan radio lokal sangat ketat.

Radio di Yogyakarta yang tak mampu bertahan, akhirnya terpaksa dijual atau paling tidak berganti nama dan menjadi bagian dari jaringan radio nasional.

Untuk melawan persaingan ini, sebagian radio di Yogyakarta mengandalkan acara-acara bernuansa daerah, seperti sandiwara dan pemutaran lagu-lagu berbahasa Jawa. Pilihan ini dirasa lebih realistis, karena dalam beberapa tahun belakangan, sejumlah jaringan radio besar dari Jakarta masuk ke daerah.

Strategi memasang acara-acara bernuansa lokal ini antara lain dilakukan oleh stasiun radio GCD FM Yogyakarta. Manajer GCD FM, Danang Mangesti kepada VOA mengatakan, dengan cara ini, radio tersebut bahkan mampu menjadi nomor satu dalam jumlah pendengar, sesuai hasil riset lembaga AC Nielsen berturut-turut sejak 2004 hingga kini.

"Kita masih memegang pasar kita dengan mengangkat budaya daerah, untuk melawan jaringan radio nasional,” ujar Danang.

Selain mempertahankan warna kedaerahan, radio lokal di Yogyakarta juga mencoba bertahan dengan rajin menggelar acara off air. Strategi ini menjadikan manajemen radio juga menyediakan jasa pengelolaan acara, khususnya bagi perusahaan pemasang iklan.

Agus Triyatno, manajer berita dan acara bincang-bincang di Unisi FM Yogyakarta mengatakan, 75 persen staf radio terlibat dalam kegiatan off air. Pemasukan dari divisi off air bahkan turut mendukung operasional radio di tengah ketatnya persaingan menggaet iklan.

"Di dalam radio sekarang ini tidak hanya dituntut untuk on air saja tetapi juga off air, karena itu tuntutan klien yang memasang iklan. Artinya tidak sekedar pemasaran, tetapi juga penjualan. Itulah yang membedakan di tengah persaingan, yang menuntut radio makin kreatif,” ujar Agus.

Agar tetap bisa bersaing dengan jaringan radio nasional, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Daerah Istimewa Yogyakarta, Rahmat Arifin menyarankan radio daerah juga menjalin jaringan. Jaringan yang dimaksud sebatas dalam jaringan pemasaran iklan dan tidak masuk dalam manajemen maupun acara radio.

Dengan strategi ini, radio daerah tidak perlu masuk dalam problem manajerial khususnya kepemilikan radio, dan tetap mempertahankan acara-acara yang menjadi ciri khas masing-masing. Pada saat bersamaan, mereka memiliki sistem yang lebih sederhana dalam proses pemasangan iklan, tetapi lebih kuat daya tawarnya karena disiarkan secara luas di seluruh anggota jaringan.

"Sebenarnya pilihan sindikasi itu tidak harus selalu sindikasi manajemen yang akhirnya kepada program secara keseluruhan. Kerja sama pemasaran bersama itu sebenarnya bisa ditempuh, agar radio lokal tetap bersiaran dengan konten lokal yang kuat tanpa banyak relay dari Jakarta. Tetapi di sisi lain dia tetap bisa membuat jejaring untuk berjualan dengan jaringan radio-radio di Jakarta,” ujar Rahmat.
XS
SM
MD
LG