Tautan-tautan Akses

Qatar, Rusia dan Masalah HAM Dalam Persiapan Piala Dunia

  • Darren Taylor

Pemasangan logo resmi Piala Dunia FIFA 2018 di gedung Bolshoi Theater, Moscow, 28 Oktober 2014. (REUTERS/Maxim Shemetov)

Pemasangan logo resmi Piala Dunia FIFA 2018 di gedung Bolshoi Theater, Moscow, 28 Oktober 2014. (REUTERS/Maxim Shemetov)

Para aktivis menyatakan di kedua negara tersebut terjadi ekploitasi dan kelalaian melindungi pekerja yang membangun prasarana dan stadion sepak bola, yang menyebabkan kematian beberapa pekerja.

Rusia dan Qatar, yang terpilih sebagai tuan rumah dua kejuaraan Piala Dunia FIFA mendatang, memiliki masalah HAM yang harus diatasi. Para aktivis menyatakan di kedua negara tersebut terjadi ekploitasi dan kelalaian melindungi pekerja yang membangun prasarana dan stadion sepak bola, yang menyebabkan kematian beberapa pekerja.

Dalam bulan Mei lalu, BBC mendokumentasikan penangkapan dan penahanan reporternya, yang sedang berusaha merekam kehidupan para buruh migran miskin di Doha, yang sedang mempersiapkan Piala Dunia 2022. Peralatan kerja awak BBC itu disita, dan tidak pernah dikembalikan.

Berdasarkan penyelidikan The Guardian, tingkat kematian para buruh asal Nepal, yang turut membangun stadion untuk kejuaraan Piala Dunia di sana, adalah satu orang setiap dua hari pada tahun 2014. Angka ini disangkal oleh Kementerian Tenaga Kerja Qatar. Human Rights Watch menyatakan banyak majikan menerapkan taktik intimidasi, termasuk di antaranya menyita paspor para buruh migran tersebut.

"Mereka sangat rentan, karena pemerintah lalai memberi perlindungan dasar bagi pekerja dan perlakuan para majikan yang bertindak tanpa dikenai hukuman di tengah-tengah situasi seperti itu," kata Jane Buchanan dari Human Rights Watch.

Jeff Thinnes, konsultan mengenai etika dan kepatuhan, mengatakan, para migran tersebut, yang kebanyakan berasal dari Nepal, Bangladesh, India, Pakistan dan Sri Lanka, bisa disebut sebagai budak.

"Menurut saya, begitu orang-orang mengetahui hal ini, begitu kita lihat lebih banyak berita ini di media sosial, ini akan memaksa para pemangku kepentingan lainnya, termasuk perusahaan-perusahaan sponsor yang mempertaruhkan nama dan reputasi mereka pada berbagai kegiatan seperti yang dikelola FIFA, untuk mempertanyakan, apakah hal-hal seperti itu yang mereka inginkan? Apakah ini cara terbaik mereka untuk berinvestasi?," kata Jeff Thinnes, CEO & Founder JTI, Inc.

Jane Buchanan mengatakan, selain merupakan kewajiban hukum Qatar dan Rusia, FIFA berttanggung jawab untuk menetapkan peraturan dan standar untuk melindungi pekerja, dan mencegah terulangnya kembali kesalahan pada masa lalu.

"Apa yang kita saksikan pada Olimpiade Musim Dingin di Sochi adalah merajalelanya eksploitasi buruh migran yang membangun prasarana dan arena pertandingan, benar-benar kelalaian yang dilakukan pemerintah Rusia hingga menit-menit terakhir untuk melakukan inspeksi dan menuntut pertanggungjawabatan para majikan yang melakukan pelanggaran itu. Jadi menurut saya ini mengirim sinyal kuat bahwa praktik-praktik semacam itu pada dasarnya dapat diterima," kata Jane Buchanan dari Human Right Watch.

Para legislator Rusia telah mengusulkan pengerahan narapidana untuk bekerja di lokasi-lokasi konstruksi FIFA 2018. Menurut Buchanan, langkah tersebut membuat para narapidana itu menghadapi risiko kerja paksa yang sangat besar. Ia mengatakan, pemerintah Rusia telah mengurangi perlindungan ketenagakerjaan bagi para pekerja yang terlibat dalam persiapan kejuaraan Piala Dunia.

XS
SM
MD
LG