Tautan-tautan Akses

Puluhan Ribu Buruh Padati Gelora Bung Karno Peringati May Day 2015


Puluhan ribu buruh memadati Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, memperingati Hari Buruh (May Day), 1 Mei 2015. (Andylala).JPG

Puluhan ribu buruh memadati Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, memperingati Hari Buruh (May Day), 1 Mei 2015. (Andylala).JPG

Selain tuntutan kenaikan upah yang dinilai masih terbilang murah, aksi peringatan hari buruh 2015 juga mendesak pemerintah menaikan dana pensiun untuk kaum buruh di Indonesia.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan beberapa kelompok massa buruh di Indonesia menggelar acara 'peringatan hari buruh sedunia atau dikenal dengan May Day di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta pada Jumat (1/5/2015). Puluhan ribu massa buruh berorasi secara bergantian meneriakkan tuntutan buruh di Indonesia kepada pemerintah Indonesia.

Penolakan upah murah masih menjadi agenda utama tuntutan aksi buruh di 2015 ini. Koordinator kelompok buruh bernama Green Forrest yang berbasis di Bogor, Aris Teguh menegaskan, upah minimum kabupaten/kota (UMK) dari pemerintah, masih terbilang murah untuk dapat memenuhi kebutuhan buruh sehari-harinya.

Seperti diketahui untuk UMK dan upah minimum provinsi (UMP) 2015 di Jakarta senilai Rp. 2,7 Juta. Dalam aksi buruh tahun ini menurut Aris, komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dari 60 poin dinaikan menjadi menjadi 84 poin.

Musisi Ahmad Dani ikut memeriahkan peringatan hari buruh sedunia (May Day 2015) di Gelora Bung Karno Jakarta, 1 Mei 2015 (Foto: VOA/Andylala).

Musisi Ahmad Dani ikut memeriahkan peringatan hari buruh sedunia (May Day 2015) di Gelora Bung Karno Jakarta, 1 Mei 2015 (Foto: VOA/Andylala).

"Yang paling mendasar kita sangat menolak adanya upah murah. Jadi perjuangan dalam menolak upah murah ini kita pengen, perhitungan dalam kenaikan UMK itu dengan cara menaikan KHL. Dari 60 poin menjadi 84 poin," kata Aris Teguh.

"Trus yang kedua, ada isu di pemerintahan bahwa sistim penghitungan UMK ini dengan cara lima tahun sekali atau paling sedikit dua tahun sekali. Kita dengan tegas menolak ini. Yang perlu dicatat, kita sangat terbuka dengan investasi, tapi jangan sampai pemerintah menjual investas dengan mengorbankan buruh. Dengan cara memberikan upah murah kepada pekerja di Indonesia," lanjutnya.

Aris menambahkan, aksi buruh tahun ini juga menuntut kenaikan dana pensiun untuk kaum buruh dari 25 persen menjadi 75 persen atau setara dengan pegawai negeri sipil dan TNI- Polri.

"Kompensasi yang diberikan pemerintah itu kisarannya 25 sampai 30 persen. Sedangkan pensiunan pegawai negeri atau TNI – Polri itu itu mencapai 75 persen. Pahit-pahitnya kita beranjak dari 60 – 75 persen perjuangan kita. Pemerintah hanya mau mengelola uang buruh tapi enggan memberikan kesejahteraan buat buruh," kata Aris.

Tuntutan lainnya menurut Aris adalah soal Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang menurutnya belum ada transparansi pengelolaannya dari pemerintah.

"Trus masalah BPJS yang sampai sekarang belum selesai. Kita pengen pemerintah juga membantu, bukan malah menaikan iuran BPJS dan dibebankan kepada buruh. Sekali lagi, Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) adalah uang buruh yang dikelola oleh pemerintah tapi ekses untuk buruh sendiri sampai sekarang tidak dinikmati oleh kaum buruh," lanjutnya.

Tuntutan lainnya lanjut Aris dari para buruh adalah penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak/BBM, elpiji, Tarif Dasar Listrik yang diberlakukan pemerintah.

Dari pantauan VOA aksi peringatan hari buruh sedunia 2015 atau May Day di Jakarta dan sekitarnya berlangsung aman. Sebanyak 14 ribu lebih pasukan Polri dan Tni dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi.

Selain di Gelora Bung Karno jakarta, aksi buruh juga berlangsung di Bundaran Hotel Indonesia dan di depan Istana Merdeka Jakarta. Aksi buruh ini juga berlangsung di kota-kota besar di Indonesia seperti Bandung, Surabaya, dan Makassar.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG