Tautan-tautan Akses

Puluhan Ribu Warga Somalia Mengungsi ke Ibukota

  • Lisa Schlein

Warga Somalia yang mengungsi akibat kekeringan dan kelaparan tinggal di tenda-tenda darurat di ibukota, Mogadishu, Senin (25/7).

Warga Somalia yang mengungsi akibat kekeringan dan kelaparan tinggal di tenda-tenda darurat di ibukota, Mogadishu, Senin (25/7).

Akibat kekeringan dan kelaparan, mereka mengungsi ke Mogadishu untuk mencari makanan, air, tempat berteduh dan bantuan lainnya.

Data Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menunjukkan dalam sebulan terakhir hampir 40.000 korban kekeringan dan kelaparan mengungsi ke Mogadishu guna mencari bantuan. Badan Pengungsi PBB itu melaporkan jumlah pengungsi semakin bertambah dan rata-rata 1.000 orang tiba di kota itu setiap harinya.

Juru bicara UNHCR, Vivian Tan, mengatakan perempuan dan anak-anak menanggung beban terberat bencana itu. Ia mengatakan fakta ini dilihat oleh pejabat UNHCR yang baru saja mengunjungi satu kamp besar bagi pengungsi diluar Mogadishu.

Ia mengatakan pejabat itu melihat fenomena yang mengkhawatirkan, dimana gerombolan orang-orang lapar, orang-orang yang putus asa saling mendorong dan berdesak-desakan untuk mendapat makanan.

“Ada semacam kepanikan menyangkut distribusi makanan di sana," ujar Tan. "Itu bukanlah distribusi makanan UNHCR tetapi makanan yang disumbangkan badan amal lokal. Orang berdesak-desakan dan saling dorong. Bahkan ada beberapa penjarahan. Yang kami khawatirkan adalah orang-orang yang lemah dan rentan terlewatkan karena mereka tidak bisa maju dalam kerumunan itu. Jadi mereka mungkin tidak mendapatkan apapun.”

Badan Pangan PBB (WFP) merencanakan serangkaian pengiriman bantuan lewat udara ke Somalia. Setiap pesawat akan mengangkut antara 14 hingga 30 ton makanan.

Juru bicara WFP, Emilia Casella, mengatakan pesawat pertama menuju Mogadishu akan membawa makanan terapi siap saji bagi anak-anak yang menderita kelaparan parah. Dalam beberapa hari mendatang, menurutnya, WFP berencana akan mengirim makanan lewat udara ke kota Gedo di wilayah selatan Somalia yang berbatasan dengan Kenya dan Eithopia.

Casella mengatakan kepada VOA, WFP bekerjasama dengan lembaga nirlaba lokal dan juga lembaga internasional dan badan-badan PBB untuk mendistribusikan makanan kepada korban kelaparan, termasuk orang-orang yang tinggal di wilayah yang tidak bisa dikunjungi badan-badan PBB.

PBB melaporkan 3,7 juta orang, separuhnya penduduk Somalia, membutuhkan bantuan internasional. WFP mengatakan tidak mampu menjangkau 60 persen orang-orang yang membutuhkan makanan, karena militan al-Shabab menghalangi badan tersebut membagikan bantuan ke wilayah-wilayah besar di bagian selatan Somalia. Kelompok tersebut menuduh WFP merugikan petani-petani lokal dan memiliki agenda politik.

Empat belas pekerja WFP terbunuh di Somalia sejak tahun 2008. WFP menghentikan distribusi bantuan ke wilayah selatan yang dikuasai Al-Shabab bulan Januari 2010 lalu tetapi tetap melanjutkan bantuan untuk ratusan ribu orang di wilayah-wilayah yang tidak dapat dijangkau di Somalia selatan, tengah dan utara.

XS
SM
MD
LG