Tautan-tautan Akses

AS

Puluhan Ribu Demonstran Protes Kekerasan Polisi


Demonstrasi “Keadilan bagi Semua" di Washington, Sabtu, 13 Desember 2014

Demonstrasi “Keadilan bagi Semua" di Washington, Sabtu, 13 Desember 2014

Puluhan ribu orang berunjuk rasa di New York, Washington dan kota-kota lainnya di Amerika hari Sabtu (13/12) untuk memrotes pembunuhan oleh polisi terhadap beberapa pria kulit hitam tak bersenjata. Para demonstran menyerukan reformasi penegakan hukum.

Keluarga dan kerabat Michael Brown, Eric Garner, Tamir Rice dan Trayvon Martin, empat orang yang tewas dalam insiden dalam dua tahun terakhir, mengikuti demonstrasi di Washington, yang dijuluki “Keadilan bagi Semua.”

Beberapa ribu demonstran berjalan dari daerah sekitar Gedung Putih ke Capitol atau gedung kongres Amerika. Di dekat Capitol, mereka mendengarkan pidato anggota keluarga para korban dan aktivis hak-hak sipil Al Sharpton, yang mengorganisasikan acara tersebut.

Demonstrasi lebih besar berlangsung di New York, di mana puluhan ribu orang ikut bergabung. Aksi unjuk rasa lainnya juga diadakan di berbagai kota, termasuk Boston, Chicago, dan San Francisco.

Di University of California, Berkeley, hari Sabtu, pemandangan protes berupa tiga patung kardus pria kulit hitam tampak terjerat dalam gantungan. Salah satu patung itu diberi tulisan “Saya tidak bisa bernapas,” yakni kata-kata terakhir Eric Garner, korban kekerasan polisi di New York.Para pejabat universitas itu mengatakan patung-patung tersebut telah disingkirkan dan tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas pemasangannya.

Berbagai protes telah diselenggarakan secara nasional sejak bulan lalu ketika dewan juri memutuskan untuk tidak mendakwa seorang polisi kulit putih yang menembak mati Michael Brown, 18 tahun, di Ferguson, Missouri bulan Agustus lalu.

Demonstrasi berkobar lagi ketika dewan juri di New York memutuskan untuk tidak mendakwa seorang anggota polisi dalam kasus Eric Garner, yang tewas akibat pitingan pada lehernya bulan Juli lalu dan kematiannya dinyatakan sebagai akibat pembunuhan oleh visum dokter kota itu.

Kasus Tamir Rice, anak laki-laki berusia 12 tahun yang ditembak mati oleh seorang polisi di Ohio setelah melambai-lambaikan apa yang ternyata pistol mainan, juga telah memicu ketegangan. Penembakan tahun 2012 terhadap anak berusia 17 tahun oleh relawan siskamling Hispanik di Florida juga tetap segar dalam ingatan banyak warga Amerika.

XS
SM
MD
LG