Tautan-tautan Akses

24 Juta Hektar Lahan Indonesia dalam Keadaan Kritis

  • Yudha Satriawan

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menanam bibit pohon di Kompleks Kampus UNS, Solo (Foto: VOA/Yudha).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menanam bibit pohon di Kompleks Kampus UNS, Solo (Foto: VOA/Yudha).

\Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggandeng ratusan kampus dan sekolah menyediakan dan menanam bibit untuk percepatan penghijauan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menyatakan, 24 juta hektar lahan di Indonesia dalam kondisi kritis.

Usai prosesi penanaman bibit pohon di kompleks Universitas Sebelas Maret atau UNS Solo, Jumat siang (13/5), Siti menegaskan perlu langkah cepat untuk mengatasi kondisi lahan tersebut.

Menurut Siti, pemerintah menggandeng perguruan tinggi dan sekolah untuk peduli dengan menyediakan dan menanam bibit untuk membantu percepatan penghijauan di lahan kritis.

“Ini kita mencoba menggandeng ratusan perguruan tinggi di Indonesia termasuk juga berbagai sekolah mulai dari sekolah menengah hingga sekolah dasar untuk membantu program penghijauan dan ketersediaan bibit pohon untuk ditanam di berbagai lahan," ujarnya.

"Masih ada 24 juta hektar lebih lahan kritis di Indonesia yang perlu ditangani secara cepat. Kami berharap kampus dan sekolah menerapkan bagi setiap mahasiswa atau siswanya. Dengan langkah ini kita tidak lagi perlu menunggu puluhan tahun untuk memperbaiki kerusakan lingkungan. Semua bergerak cepat dan bersama-sama,” kata Siti.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengapresiasi langkah berbagai perguruan tinggi yang mengangkat program green campus, peduli pada lingkungan.

Data Kementerian tersebut menunjukkan ada sekitar 179 perguruan tinggi sudah siap membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperbaiki kerusakan lingkungan hidup. Langkah tersebut dilakukan dengan penyediaan bibit pohon dan ikut menanam serta merawatnya hingga lulus pendidikan.

Sementara itu, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Profesor Ravik Karsidi mengatakan, setiap mahasiswa baru di kampusnya wajib menanam dan merawat minimal satu bibit pohon sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan.

Bahkan, Ravik yang pernah menjabat ketua Forum Rektor Indonesia ini menegaskan, menanam dan merawat bibit pohon hingga lulus kuliah merupakan salah satu bentuk persyaratan kelulusan menempuh studi di perguruan tinggi ini.

“Kami sejak tahun 2013 menerapkan satu mahasiswa baru menanam satu bibit pohon, tapi mulai tahun ini kami tambah lagi menjadi satu mahasiswa menanam lima bibit pohon dan ini harus selesai saat mahasiswa yang bersangkutan lulus dari kampus ini," ujarnya.

"Yang bersangkutan dilarang mengambil ijazah atau wisuda kelulusan kalau belum menyetorkan bukti sudah menanam lima bibit pohon dan tumbuh dipelihara hingga lulus. Kami sudah siapkan sistem online seperti saat kelulusan membutuhkan syarat bebas perpustakaan, sudah tidak ada pinjaman buku perpustakaan, nah ini sudah menanam bibit pohon,” jelas Ravik.

Setiap tahun hampir 100 ribu orang diterima di berbagai Universitas Negeri berbagai daerah di Indonesia melalui data prestasi siswa di sekolah lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dari jumlah peminat mencapai 750 ribu orang. Sedangkan peminat Ujian Masuk Perguruan Tinggi atau SBMPTN mencapai 700 ribu peserta dengan kuota sekitar 125 ribu kursi.

Per tahun rata-rata tercatat ada lebih dari 4 juta orang terdaftar sebagai mahasiswa di Indonesia. Jika setiap mahasiswa diharuskan menanam satu pohon sebagai syarat kelulusan, maka peran serta perguruan tinggi di Indonesia akan semakin nyata dalam program pelestarian alam, yakni dengan penanaman jutaan pohon baru setiap tahun. [ys/lt]

XS
SM
MD
LG