Tautan-tautan Akses

Psikolog Minta Masyarakat dan Media Empati terhadap Keluarga Korban Kecelakaan AirAsia

  • Petrus Riski

Tim DVI Polda Jawa Timur memberikan keterangan terkait perkembangan identifikasi korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. (VOA/Petrus Riski)

Tim DVI Polda Jawa Timur memberikan keterangan terkait perkembangan identifikasi korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. (VOA/Petrus Riski)

Masyarakat dan media massa diminta untuk menghargai ruang privat keluarga korban AirAsia QZ8501, dengan tidak menjadikan kesedihan atas musibah ini sebagai sebuah eksploitasi informasi.

Himpunan Psikologi Indonesia menyiapkan puluhan tenaga sukarelawan di bidang psikologi, untuk mendampingi keluarga korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Pendampingan ini diperlukan untuk mencegah efek yang dapat timbul, atas kesedihan mendalam yang dialami keluarga korban.

Juru bicara Himpunan Psikologi Indonesia, Margaretha mengatakan, kesempatan mengalami kesedihan secara alamiah oleh keluarga korban, merupakan salah satu upaya mengatasi kesedihan itu sendiri.

“Memberikan kesempatan bagi para keluarga untuk bisa merasakan kesedihannya, untuk bisa mengalami kesedihannya secara alamiah, karena memang orang ketika menghadapi duka itu prosesnya bisa sangat individual, dan ada juga orang-orang yang memang cukup mampu untuk menempuh atau melampaui kesedihannya ini secara alamiah. Tentu saja selain itu, ada juga orang-orang yang mungkin butuh bantuan secara psikologis oleh profesional, psikolog, misalkan orang-orang yang memang punya kedukaan berlebihan, atau mungkin dulunya pernah mengalami trauma tertentu terkait dengan ditinggal pergi oleh keluarga terkasih,” ujar Margaretha.​

Maraknya pemberitaan mengenai musibah kecelakaan pesawat oleh media massa, seringkali mengabaikan sisi privasi seseorang, maupun etika dalam pemberitaan. Tidak jarang kesedihan dan duka keluarga korban menjadi materi pemberitaan yang banyak dieksploitasi media massa. Margaretha mengatakan, peran media massa untuk mambantu proses pemulihan trauma dan kesedihan keluarga korban, dapat dilakukan dengan tidak terlalu mengeksploitasi kesedihan sebagai materi pemberitaan.

“Kita perlu memahami bahwa empati ini menjadi dasar dari proses pemberitaan. Tentu saja kita juga sadari bahwa keluarga akan membutuhkan informasi, tapi informasi yang seperti apa dan bagimana cara menyampaikannya, tentu saja harus disampaikan secara empatik. Apa yang dimaksud dengan empatik, kita tidak melulu untuk fokus pada penderitaan korban, tapi juga untuk melihat hal-hal lain disamping fenomena ini, karena kalau kita hanya fokus pada kesedihan itu seperti mengeksploitasi kesedihan atau kedukaan seseorang. Media bisa berperan, fokus juga kegiatan pada kegiatan-kegiatan sukarelawan, apa-apa saja yang terjadi pada fenomena ini bukan hanya sekedar kedukaan. Itu akan menjadi masukan dan pendidikan juga bagi masyarakat, betapa orang bisa saling membantu, dan itu akan menjadi hal yang lebih positif daripada kita sekedar mengeksploitasi kesedihan dari keluarga penumpang,” tambah Margaretha.

Margaretha mengungkapkan bahwa eksploitasi berlebihan atas kedukaan seseorang, dapat menimbulkan efek lain yang kurang baik bagi keluarga korban di kemudian hari.​

Terkait privasi keluarga korban yang tidak menginginkan eksploitasi berlebihan dari peristiwa yang membuat sedih, Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan sekaligus tim DVI Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Polisi Budiyono akan langsung menyerahkan jenasah penumpang pesawat AirAsia QZ8501 yang sudah berhasil diidentifikasi, kepada keluarga korban tanpa melalui upacara resmi. Hingga hari Minggu (4/1), sudah 9 jenasah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI Polda Jawa Timur.

“Atas permintaan dari keluarga, keluarga tidak menginginkan adanya seremonial dalam penyerahan, saya langsung meyerahkan yang jelas tidak ada upacara-upacara secara formal,” kata Budiyono.

XS
SM
MD
LG