Tautan-tautan Akses

Protes Anti-Amerika Kembali Merebak di Afghanistan


Warga Afghanistan terus melancarkan protes anti-Amerika setelah insiden pembakaran al-Quran (24/2).

Warga Afghanistan terus melancarkan protes anti-Amerika setelah insiden pembakaran al-Quran (24/2).

Jumlah korban dalam protes pembakaran al-Quran menjadi setidaknya 22 orang, termasuk dua tentara AS yang tewas hari Kamis.

Permintaan maaf Amerika tidak dihiraukan di Afghanistan dan Pakistan, dimana kemarahan menggelegak karena pembakaran al-Quran. Ribuan warga Afghanistan turun ke jalan-jalan seusai sholat Jumat, banyak di antaranya meneriakkan “Matilah Amerika.”

Pejabat-pejabat Afghanistan mengatakan setidaknya sembilan orang tewas, tujuh di antaranya di provinsi Herat, Afghanistan barat, ketika aksi protes berubah menjadi kekerasan. Ratusan orang melancarkan aksi protes dekat konsulat Amerika di Herat, tapi pejabat-pejabat Amerika membantah laporan ada demonstran yang ditembak selagi berusaha menyerbu kantor itu.

Juga ada laporan mengenai orang yang cedera akibat aksi-aksi protes di ibukota, Kabul. Demonstran juga turun ke jalan-jalan provinsi Nangarhar dan Ghazni, Afghanistan timur. Setidaknya satu orang dilaporkan tewas di provinsi Baghlan.

Jumlah korban terbaru itu menambah jumlah kematian menjadi setidaknya 22 orang, termasuk dua tentara Amerika yang tewas hari Kamis.

Demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika hari Jumat di ibukota Pakistan, Islamabad dan Peshawar, kota di Pakistan baratlaut. Demonstrasi di Afghanistan berlanjut meskipun pejabat-pejabat NATO dan Afghanistan menyerukan agar orang menahan diri.

Hari Jumat, komandan pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, Jenderal John Allen, mengatakan penyelidikan bersama oleh pasukan koalisi dan Afghanistan terhadap “kekeliruan menangani naskah-naskah keagamaan” di Pangkalan Udara Bagram masih berlangsung. Saksi mata insiden hari Minggu itu kini sedang ditanyai.

Jenderal Allen mengeluarkan pernyataan yang menegaskan, bekerja sama dengan pemimpin Afghanistan merupakan satu-satunya cara bagi pihaknya untuk memperbaiki kekeliruan besar itu dan memastikan peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Presiden Amerika Barack Obama telah mengirim permintaan maaf tertulis kepada Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengenai penodaan terhadap Quran di Bagram itu. Kedutaan besar Amerika di Kabul telah mendesak warga Amerika agar menghindari perjalanan yang tidak perlu di negara Asia Selatan itu.

XS
SM
MD
LG