Tautan-tautan Akses

AS

Prospek Perekonomian di Benak Warga Amerika Jelang Pemilu


Seorang pekerja konstruksi di New York (Foto: dok).

Seorang pekerja konstruksi di New York (Foto: dok).

Prospek ekonomi Amerika tetap berada di benak banyak orang Amerika yang prihatin tentang prospek pekerjaan mereka dan ketimpangan pendapatan yang semakin besar.

Dalam beberapa pekan ini, isu-isu imigrasi, keamanan nasional dan kontraterorisme menyingkirkan isu ekonomi sebagai fokus kampanye pemilu presiden 2016. Tapi seperti dilaporkan oleh koresponden VOA Aru Pande, prospek ekonomi Amerika tetap berada di benak banyak orang Amerika yang prihatin tentang prospek pekerjaan mereka dan ketimpangan pendapatan yang semakin besar.

Suja Joseph menjalankan usaha bengkel di Columbia, Maryland, tidak jauh di luar Washington D.C., untuk membantu para penganggur kembali mandiri.Ia mengatakan melihat perbedaan prospek pekerjaan bagi mereka hanya dalam beberapa tahun terakhir.

“Sebagian pencari kerja datang dan mengatakan, 'dulu ketika saya melamar pekerjaan lamaran saya tidak ditanggapi, tetapi sekarang para pengusaha mencari saya,’ dan mereka menganggap hal itu memberdayakan,” kata Suja Joseph.

Tujuh tahun lalu, Presiden Barack Obama mulai menjabat di tengah-tengah resesi ekonomi yang parah. Sejak itu, angka pengangguran di Amerika telah turun separuhnya, menjadi lima persen, dan sekitar 13 juta lapangan kerja berhasil diciptakan.

“Ya, ekonomi tumbuh, ya kita menambah lapangan kerja. Data pasar tenaga kerja baik. Ada indikasi bahwa upah akan naik tahun ini,” kata konsultan kebijakan publik dan bisnis di Baltimore, ekonom Anirban Basu dari Sage Policy Group.

Tapi Basu mengatakan bahwa di balik angka-angka itu terdapat gambaran yang tidak menentu, yang bisa mengakibatkan terjadinya peningkatan ketidakpastian pada tahun 2017 dalam perekonomian Amerika.

“Kita memiliki kapasitas produksi terlalu besar dan tidak ada cukup permintaan dan salah satu alasannya adalah karena ekonomi global masih sangat lemah. Memasuki tahun baru, kita menerima banyak berita buruk tentang perekonomian China,” lanjutnya.

Ketidakpastian itu juga dirasakan oleh beberapa mahasiswa yang berniat memulai bisnis pakaian yang sempat ditemui oleh VOA. Para mahasiswa itu adalah Heza Mulinzi, Frederick Torrence dan Denell Hammond.“Kami selalu kreatif. Itu adalah sesuatu yang selalu ada di benak saya. Yang saya perjuangkan adalah menemukan cara untuk membuatnya menguntungkan,” jelas Denell Hammond.

“Kami mulai ini untuk mengembangkan sebuah perusahaan sehingga ketika kami lulus kami tidak hanya memiliki selembar kertas ijazah, tapi kami juga memiliki sebuah perusahaan yang mapan, dan kami tidak perlu khawatir dengan pelunasan pinjaman uang kuliah,” imbuh mahasiswa lainnya, Frederick Torrence.

Bagi para mahasiswa ini, jalan menuju masa depan ekonomi yang sehat harus dibangun lewat kewirausahaan tradisional Amerika. [lt/jm]

XS
SM
MD
LG