Tautan-tautan Akses

ADB: Prospek Ekonomi Asia Positif dalam 2 Tahun ke Depan


Lalu lintas di Jakarta pada jam-jam sibuk (foto: dok). Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia dalam dua tahun ke depan stabil, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan India akan membaik dari tahun ini mengimbangi ekonomi China yang melambat.
Lalu lintas di Jakarta pada jam-jam sibuk (foto: dok). Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia dalam dua tahun ke depan stabil, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan India akan membaik dari tahun ini mengimbangi ekonomi China yang melambat.

Bank Pembangunan Asia (ADB) Selasa (24/3) mengatakan prospek ekonomi negara-negara berkembang di Asia tampak bagus menjelang tahun 2016, meski ADB juga melihat adanya risiko ke depan.

Dalam laporan tahunan yang dirilis hari Selasa (24/3), Bank Pembangunan Asia (ADB) menilai positif ekonomi Asia meskipun ekonomi China melambat ke tingkat yang tidak pernah terjadi dalam hampir 25 tahun. Tetapi, ADB berpendapat ekonomi China yang melambat akan diimbangi pertumbuhan ekonomi di India dan Asia Tenggara, pemulihan ekonomi Amerika dan harga minyak dunia yang rendah.

Berbicara dalam jumpa pers di Hong Kong, yang disiarkan langsung lewat internet, Kepala Ekonom ADB Shang-Jin Wei mengatakan prospek itu umumnya baik dalam dua tahun ke depan.

"Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia stabil dan diperkirakan mencapai 6,3 persen untuk tahun ini dan tahun depan. Itu karena ekonomi India dan Indonesia lebih baik daripada sebelumnya, mengimbangi tingkat pertumbuhan yang melambat di China. Tekanan inflasi lebih rendah karena kombinasi reformasi kebijakan moneter domestik, seperti di India, dan harga-harga komoditi yang lebih rendah," kata Wei.

Di Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi Thailand juga diperkirakan meningkat, memperkuat prospek ekonomi yang lebih baik di kawasan itu. Beberapa negara di kawasan itu, termasuk India dan Indonesia, telah mengurangi subsidi bahan bakar di saat harga minyak lebih rendah, memperbaiki anggaran dan fiskal sehingga memungkinkan lebih banyak anggaran untuk pelayanan sosial.

Tetapi ekonomi China, penggerak utama di kawasan itu, diperkirakan melambat ke tingkat pertumbuhan tahunan sebesar tujuh persen, antara lain karena menurunnya investasi, terutama dalam bidang real estate. Wei mengatakan kenaikan upah buruh, perubahan demografis dan naiknya nilai mata uang China, Renminbi, juga ikut melambatkan pertumbuhan.

Di Asia Tenggara, yang sedang bersiap meluncurkan secara resmi ASEAN Economic Community di 10 negara anggotanya, ekonomi regional tahun ini akan naik menjadi lebih dari lima persen pada tahun 2016. Prospek ekonomi di negara-negara kawasan Pasifik juga positif.

Tetapi di Asia Tengah, di mana pertumbuhan sudah melambat akibat harga minyak yang lemah dan dampak resesi di Rusia, pertumbuhan ekonomi akan "terus merosot” kata ADB. Bank itu mengatakan kalau harga minyak naik lagi karena "ketegangan geopolitik," itu bisa mengurangi keuntungan sebelumnya dari harga bahan bakar yang lebih rendah.

Recommended

XS
SM
MD
LG